Nantikan Data Tenaga Kerja AS, Rupiah Dibuka di Zona Merah

Jakarta – Pada pembukaan pagi hari ini, Jumat (5/5) rupiah dibuka melemah 10 poin atau 0,08 persen ke level Rp 13.338 per dolar AS. Sebelumnya, Kamis (4/5) rupiah berakhir 20 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp 13.328 per dolar AS usai diperdagangkan pada rentang angka Rp 13.310 hingga Rp 13.348 per dolar AS.

Menurut Sri Wahyudi, Research and Analyst PT Garuda Berjangka, faktor yang menahan gerak Garuda berasal dari sentimen Amerika Serikat. Optimisme yang akan menaikkan acuannya pada Juni 2017 mendatang mengakibatkan nilai tukar dolar AS kini melonjak.

Alhasil mata uang selain dolar AS pun kini tertekan oleh kekuatan the . “Kini tertuju pada rilis data sektor AS akhir pekan yang diduga pun akan tumbuh membaik jadi wajar dolar AS di atas angin,” kata Wahyudi.

Seperti diketahui, pada rapat Mei 2017, memutuskan untuk mempertahankan Fed Funds Rate (FFR) target. Meski demikian The Fed mengisyaratkan optimisme mereka yang tertuang dalam risalah FOMC meeting yang dirilis dini hari kemarin meski performa data AS pada kuartal I/2017 relatif buruk.

Di sisi lain para pelaku pasar saat ini lebih banyak memilih mengumpulkan aset safe haven sambil menunggu hasil pemilihan umum (pemilu) Eropa putaran ke-2 pada tanggal 7 Mei 2017 depan. Aksi tersebut tentunya juga turut membebani aset berisiko seperti rupiah.

Harga komoditas yang mengalami penurunan juga turut menekan gerak rupiah. “Sementara dalam negeri masih mini katalis terbaru karena pasar juga menanti rilis peringkat ekonomi dari S&P,” imbuh Wahyudi. Ia memprediksi jika rupiah kemungkinan akan melanjutkan pelemahannya karena tingkat upah AS diperkirakan mengalami pertumbuhan yang positif. “Cenderung lemah dalam rentang sempit,” tandasnya.

Loading...