Naik Tipis, Penguatan Rupiah Makin Terbatas di Selasa Pagi

Rupiah Dolar - finroll.comRupiah Dolar - finroll.com

JAKARTA – masih mampu menjaga tren positif pada Selasa (28/5) pagi, meski laju penguatan semakin menipis. Menurut Wall Street Journal pada pukul 08.49 WIB, Garuda terpantau menguat tipis 2 poin atau 0,01% ke level Rp14.378 per AS. Sebelumnya, spot berakhir naik di posisi Rp14.380 per AS pada Senin (27/5) kemarin.

“Faktor eksternal seperti perang dagang antara AS dan saat ini masih menjadi katalis penggerak rupiah dan belum ada isu baru sehingga nilai tukar rupiah masih bisa bangkit kendati sedikit,” ujar Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, dilansir CNBC Indonesia. “Sementara, dari dalam negeri, kondisi domestik dinilai cukup kondusif sehingga tidak terlalu berpengaruh.”

Penguatan rupiah sendiri juga tidak lepas dari kerja keras Bank Indonesia yang selama ini menjadi garda terdepan menjaga stabilitas mata uang Garuda. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, berkali-kali menekankan bahwa akan terus berada di untuk menjaga rupiah agar tidak keluar dari nilai fundamentalnya.

“Untuk mendukung efektivitas kebijakan nilai tukar dan memperkuat pembiayaan domestik, Bank Indonesia terus mengakselerasi pendalaman pasar keuangan, baik di pasar uang maupun valas,” tutur Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Onny Widjanarko. “Ke depan, nilai tukar rupiah akan bergerak stabil dengan mekanisme pasar yang tetap terjaga.”

Analis Monex Investindo Futures, Faisyal, menambahkan bahwa penguatan rupiah ditopang oleh hasil sejumlah AS yang melemah jelang akhir pekan lalu. Data yang dimaksud adalah data PMI AS di bulan April yang hanya berada di level 50,6 atau lebih rendah daripada konsensus pasar, serta data pemesanan barang tahan lama yang turun 2,1%.

“Rupiah masih punya potensi menguat pada perdagangan Selasa ini walau cenderung terbatas. Pasalnya, pelaku pasar masih mengkhawatirkan perkembangan perang dagang antara AS dan China, sehingga membuat dolar AS mungkin akan kembali perkasa,” kata Faisyal. “Situasi politik dalam negeri yang belum benar-benar pulih juga kelak akan membatasi penguatan rupiah.”

Loading...