Naik Tipis 3 Poin, Rupiah Diprediksi Masih Akan Melemah

Rupiah - www.harianinhuaonline.comRupiah - www.harianinhuaonline.com

Jakarta dibuka menguat tipis 3 poin atau 0,02 persen ke level Rp 13.749 per AS di awal pagi hari ini, Rabu (14/3). Kemarin, Selasa (13/3), nilai tukar rupiah berakhir terapresiasi 13 poin atau 0,09 persen ke posisi Rp 13.572 per dolar AS setelah diperdagangkan pada kisaran angka Rp 13.738 hingga Rp 13.765 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur gerak The Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah 0,25 persen menjadi 89,675 di akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB usai kabar tentang pencopotan menteri luar negeri Amerika Serikat.

Presiden AS Donald Trump belum lama ini mengumumkan akan mengganti Menteri Luar Negeri Rex Tillerson dengan Direktur Central Intelligence Agency (CIA) Mike Pompeo. Dicopotnya Tillerson membuat semakin khawatir bahwa pemerintahan Trump akan lebih menerapkan kebijakan proteksionisme dan agresif untuk mengatur perdagangan dengan lainnya.

Menurut para analis, jika ditinjau secara historis, tarif perdagangan telah mengakibatkan dolar AS melemah selama masa pemerintahan George W. Bush dan Bill Clinton. Sementara itu dari sektor , Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Indeks (IHK) untuk semua perkotaan naik 0,2 persen pada Februari 2018 disesuaikan secara musiman, sesuai dengan perkiraan pasar.

Selama 12 bulan terakhir, indeks semua barang naik 2,2 persen sebelum disesuaikan secara musiman. Indeks semua item dikurangi makanan dan energi naik 0,2 persen pada Februari, dan naik 1,8 persen selama 12 bulan terakhir, sama seperti 2 bulan sebelumnya.

Hingga kini pergerakan rupiah di pasar spot masih dibayangi oleh rencana kenaikan suku bunga acuan , sehingga tekanan terhadap rupiah masih belum sepenuhnya lenyap. Meski menguat, ekonom Bank Mandiri Reny Eka Putri mengatakan jika penguatan rupiah ini hanya efek dari profit taking. “Jadi sebaiknya investor tidak terlalu apresiasi penguatan rupiah hari ini, karena masih ada risiko terkait rencana naiknya suku bunga AS,” jelas Reny, seperti dilansir Kontan.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa gerak rupiah hari ini akan dipengaruhi oleh rilis data inflasi Amerika Serikat. Analis Valbury Sekuritas Indonesia Lukman Leong memaparkan, jika inflasi AS pada Februari sesuai perkiraan, turun 0,2 persen dari 0,5 persen pada bulan sebelumnya, maka rupiah masih berpeluang naik tapi. Namun untuk jangka panjang rupiah diperkirakan akan melemah.

Loading...