Dihantui Mutasi COVID-19, Rupiah Berakhir Melemah Tajam

Rupiah - www.kaskus.co.idRupiah - www.kaskus.co.id

JAKARTA – Rupiah tidak mampu berbuat banyak untuk melawan yang sedang beringas pada Selasa (22/12), ketika dibuat gelisah oleh mutasi yang dikatakan dapat menyebar lebih cepat. Menurut data Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda berakhir melemah tajam, 75 poin atau 0,53% ke level Rp14.205 per dolar AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan pukul 10.00 WIB tadi menempatkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.218 per dolar AS, terkoreksi 38 poin atau 0,26% dari sebelumnya di level Rp14.180 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang pun takluk melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,62% dialami rupee India.

Dikutip dari CNBC Indonesia, keuangan saat ini diselimuti ketidakpastian lantaran ada kabar bahwa virus corona di Inggris bermutasi menjadi varian baru dan dikatakan lebih menular daripada tipe sebelumnya. Akibatnya, banyak negara, seperti Jerman, Belanda, dan Italia, yang melarang warga Inggris masuk ke wilayah mereka.

Menurut Menteri Kesehatan Italia, Roberto Speranza, virus corona varian baru yang ditemukan di London adalah sesuatu yang mengkhawatirkan dan harus dilakukan dan penelitian oleh para ahli. Sementara itu, Menteri Kesehatan Jerman, Jens Spahn, menuturkan walau virus corona varian baru belum terdeteksi di negaranya, tetapi pihaknya menerima laporan tersebut dengan sangat serius.

Kegelisahan pasar keuangan akan mutasi COVID-19 yang ditemukan di Inggris membuat indeks dolar AS berhasil merangkak naik pada hari Selasa, selain didukung likuiditas yang rendah, walau sebagian besar pergerakan belum pulih. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,199 poin atau 0,22% ke level 90,242 pada pukul 11.20 WIB.

Dilansir dari Reuters, investor masih cenderung memprediksi penurunan dolar AS karena pemulihan COVID-19 secara global mengangkat perdagangan dunia dan komoditas, yang cenderung menguntungkan ekonomi yang didorong ekspor dan mata uang mereka. Nilai keseluruhan taruhan terhadap greenback telah melorot pada minggu lalu, tetapi tetap mendekati level tertinggi sembilan tahun yang dicapai pada bulan September kemarin.

“Euro menemukan banyak pembeli karena penurunan dolar AS yang dalam,” kata kepala strategi di broker mata uang Axi yang berbasis di Bangkok, Stephen Innes. “Penghapusan ‘short dollar’ mungkin tidak lebih buruk daripada posisi yang ditarik karena ketakutan Brexit. Namun, itu menunjukkan potensi bahaya sentimen dolar AS yang secara universal turun.”

Loading...