Lahan Minim dan Ditentang Warga Lokal, Muslim di Jepang Sulit Kuburkan Jenazah

Kuburan muslim di Jepang - www.dailynewsindonesia.com

FUKUOKA – Dalam ajaran Islam, jenazah orang yang sudah meninggal dunia disarankan untuk dikubur sesuai dengan yang ditetapkan oleh . Sayangnya, umat Muslim yang tinggal di kesulitan menguburkan jenazah, karena sedikitnya untuk pemakaman, tradisi setempat yang cenderung melakukan kremasi, serta penolakan dari warga lokal.

Dilansir dari Nikkei, hanya sedikit daerah di Jepang yang memiliki tempat pemakaman, yang menimbulkan masalah serius bagi umat Islam karena kremasi dilarang dalam ajaran agama. Cobaan lainnya adalah populasi warga lokal yang menyusut, yang akhirnya menghadapi kebutuhan yang semakin besar untuk menerima lebih banyak warga dengan adat istiadat dan latar belakang budaya yang berbeda.

Salah satu sudut pemakaman Katolik di pegunungan di kota Prefektur Oita, Beppu, sangat kontras dengan area di sekitarnya karena kuburan tersebut memiliki penanda batu sederhana, alih-alih. Salib. Sementara itu, lembaran horizontal, terancam oleh gulma, menandai kuburan Muslim. Sekitar 20 Muslim telah dimakamkan di tempat tersebut, tetapi sekarang tidak ada tempat lagi.

“Saya memiliki pengalaman yang sangat menyakitkan ketika mencoba menemukan tempat untuk menguburkan putra saya,” ujar Zafar Saeed, salah satu penduduk kota. “Saya menghabiskan beberapa jam di kantor kota mencari informasi tentang kemungkinan tempat pemakaman, dan akhirnya mengetahui tentang pemakaman Katolik.”

Di Negeri Matahari Terbit, lebih dari 99% orang mati dikremasi. Tidak banyak kuburan tempat jenazah bisa dimakamkan. Meskipun undang-undang tidak melarang penguburan, rencana untuk membuat pemakaman dapat menghadapi hambatan besar, terutama tentangan dari masyarakat setempat. Di beberapa daerah, melarang penguburan dengan alasan kebersihan publik, menurut seorang pejabat di Kementerian Kesehatan setempat.

Seorang Pakistan yang tinggal di Prefektur Fukuoka, yang telah membantu sekitar 10 pemakaman Muslim, menuturkan bagaimana pemakaman sederhana dapat berubah menjadi misi yang menantang bagi umat Islam di Jepang. Dia pernah harus mengangkut mayat sejauh 700 km dari Kyushu ke Yamanashi dan mengirim satu lagi melalui udara dari Okinawa. “Ini menghabiskan banyak waktu dan uang. Semua Muslim (di Jepang) mengkhawatirkan kuburan mereka,” katanya.

Untuk mengatasi masalah ini, sebuah organisasi Muslim di Oita telah membeli sekitar 8.000 meter persegi tanah di pegunungan di samping Kota Hiji untuk membuat pemakaman dengan ruang untuk sekitar 100 jenazah Muslim. Namun, rencananya menemui hambatan. Meski sudah melakukan pembicaraan awal dengan kota pada Agustus kemarin, sekitar 100 penduduk setempat mengajukan petisi menentang proyek tersebut kepada kota dan majelis.

Kelompok warga ini mencatat bahwa kolam irigasi pertanian dan sumber air minum terletak di dekat lokasi yang direncanakan dan mengklaim bahwa pemakaman tersebut akan menimbulkan risiko bagi reputasi tanaman di dekatnya, karena muncul desas-desus bahwa panen dapat tercemar oleh air dari kuburan. Meski persetujuan warga setempat tidak diperlukan untuk membangun kuburan, pemerintah kota hingga sekarang belum menyetujui rencana tersebut.

Menurut data pemerintah Jepang, jumlah orang yang datang untuk tinggal dari negara-negara Asia dengan populasi Muslim terus meningkat, terutama karena program pelatihan praktik kerja pemerintah yang memberikan kesempatan kerja bagi warga negara asing. Sekitar 66.800 orang Indonesia tinggal di Jepang pada Desember 2019, naik 86% dari empat tahun sebelumnya. Ada juga 16.600 orang Bangladesh atau naik 50%, dan 17.700 orang Pakistan (naik 40%).

Meskipun tidak ada statistik pemerintah mengenai populasi Muslim di Jepang, Hirofumi Tanada, seorang profesor emeritus di Universitas Waseda, memperkirakan bahwa 230.000 Muslim tinggal di Negeri Sakura pada akhir 2019, setelah berlipat ganda dalam satu dekade. Dari total itu, 180.000 adalah warga negara asing, 40% di antaranya memiliki status kependudukan. Semakin banyak juga orang Jepang yang menjadi Muslim karena pernikahan internasional dan alasan lainnya.

“Muslim Jepang dapat membantu menemukan solusi dengan mengambil bagian dalam pembicaraan mengenai masalah tersebut (tanah kuburan),” ujar Tanada. “Saya berharap melihat lebih banyak upaya untuk hidup berdampingan guna memastikan bahwa masyarakat Jepang akan menerima kuburan yang dibangun menurut hukum Islam, demi semua Muslim di Jepang, termasuk warga lokal Jepang.”

Loading...