Musim Pertama Berbuah, Harga Buah Matoa Tembus Ratusan Ribu Rupiah

Buah Matoa - (Sumber: pinterest.com)Buah Matoa - (Sumber: pinterest.com)

Buah matoa atau yang nama ilmiahnya Pometia pinnata merupakan khas Papua dan menjadi flora identitas Papua Barat. ini juga banyak tumbuh di beberapa daerah di Sulawesi, Maluku, dan .

Matoa merupakan jenis tanaman yang dapat tumbuh di daerah dataran rendah hingga dataran tinggi (1-1400m di atas permukaan laut) dengan curah hujan yang tinggi. Kulitnya cukup tipis, dan ketika dibuka, tekstur dagingnya mirip kelengkeng dan rambutan.

Di pertama matoa berbuah, harga di bisa tembus angka Rp 150 ribu untuk jenis matoa kelapa. Sementara matoa papeda dengan harga lebih murah, berkisar antara Rp 80 ribu hingga Rp 100ribu.

Matoa merupakan buah musiman, karena berbuahnya hanya sekali dalam setahun, yaitu sekitar bulan September dan Oktober. Dikarenakan stoknya tidak terlalu banyak di , harga matoa terbilang relatif .

Agustina Udam, matoa di jalan masuk bandara Sentani, menceritakan dirinya membeli buah matoa dari di pinggiran danau Sentani dengan jenis matoa berbeda-beda.

“Saya ambil matoa di dermaga Yahim. Saya langsung ambil dari pemilik pohon. Ada matoa kelapa dan ada matoa papeda,” katanya.

Ia mengatakan bahwa dirinya membeli matoa dari pemilik pohon disesuaikan dengan besarnya modal awal yang dimiliki. “Kalau modal besar bisa beli sampai 10 karung. Tapi kadang hanya lima atau empat karung. Bahkan pernah hanya bisa beli tiga karung. Per karung isi 15 kg matoa. Satu karung biasanya kena Rp 800 ribu sampai Rp 900 ribu. Kalau sudah pindah tangan sudah lebih mahal lagi. Satu karung bisa Rp 1 juta,” ucap perempuan berumur 51 tahun ini.

Agustina mengatakan bahwa harga buah matoa memang biasanya relatif mahal di awal musim buahnya. “Matoa papeda saya jual Rp 80 ribu sampai Rp 100 ribu. Ada yang tawar Rp 150 ribu untuk 2 kilo, tapi saya tra mau kasih. Kalau matoa kelapa Rp 150 ribu ,” katanya.

Selain di daerah asalnya,Papua, buah matoa juga bisa ditanam dan dipanen di daerah lain, seperti yang dilakukan oleh warga Pati, tepatnya di Kecamatan Gembong, Pati, Jawa Tengah. Matoa jenis Pometia pinnata banyak ditanam warga di pekarangan. Tidak banyak yang tahu jika desa di kaki Gunung Muria tersebut adalah sentra matoa.

“Begitu tahu rasanya manis, mereka ramai-ramai ikut tanam,” kata M Sukir SPd, pengepul buah di Pati, Jawa Tengah.

Menurut Ir Edhi Sandra MS, ahli fisiologi tumbuhan Fakultas Kehutanan IPB, mengatakan bahwa buah matoa tergolong tanaman nonklimaterik. Artinya, matoa tidak bisa dipanen muda karena pematangan buah berhenti setelah dipetik. Hal itu berbeda dengan mangga atau pepaya yang bisa dipanen mengkal.

Loading...