Mulai Loyo di Putaran kedua, Rupiah Terdepresiasi 16 Poin

Jakarta – Rupiah terdepresiasi 0,12% pada penutupan hari ini. Sebagaimana terpantau dari laman Bloomberg, Rupiah terhenti di level Rp 13.238 per setelah meluncur 16 poin pada penghujung sore (6/4).

Di hari sebelumnya (Selasa, 5/4), Rupiah telah ditutup pada level Rp13.222 per dengan pelemahan sejauh 32 poin (0,24%).

Serupa dengan beberapa hari sebelumnya, gerak Rupiah didapati melambat sejak pembukaan sesi II perdagangan. Awalnya, Rupiah tampak prima dan konsisten melaju di teritori ‘hijau’ bersama mayoritas mata uang pada sesi pertama perdagangan.

Sentimen positif yang menjadi pendorong Rupiah sepanjang hari ini berasal dari Tiongkok. Seperti diketahui, ekspansi pada Maret mengalami rebound, meski lajunya dinilai kurang signifikan. Hingga tiba rilis data manufaktur dan jasa China yang dinyatakan keluar dari ‘periode kontraksi’, itulah saat yang juga menguntungkan bagi Rupiah.

Berdasar data dari Caixin China Composite PMI yang dirilis hari ini (6/4), sektor manufaktur dan jasa mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas di China pada Maret 2016. Sebelumnya, keseluruhan sektor tersebut mengalami penurunan per periode Februari 2016. Pemicunya, sektor jasa yang bertumbuh menjadi lebih baik, serta perbaruan ekspansi output manufaktur. Indeks PMI composite tercatat pada angka 51,3 yang merupakan pencapaian tertinggi dalam 11 bulan terakhir.

“Secara umum, sektor jasa berkembang dengan baik, namun perekonomian masih terombang-ambing, mengindikasikan kurang solidnya pondasi pemulihan,” kata He Fan, Kepala Ekonomi Caixin Insight Group, dalam rilis pers Caixin Markit, Rabu (6/5).

He Fan menilai, pemerintah China perlu memacu reformasi di sisi suplai untuk memaksimalkan pertumbuhan yang mulai terlihat berkembang.

Loading...