Modal Pilpres 2019, Jokowi Lirik Jepang Bangun Infrastruktur Dalam Negeri

Infrastruktur Transportasi - www.jawapos.comInfrastruktur Transportasi - www.jawapos.com

JAKARTA – Presiden Indonesia, Joko Widodo, tampaknya mulai berpaling ke Jepang sebagai ‘rekan’ untuk membangun dan meneruskan sejumlah infrastruktur di Tanah Air, setelah China dianggap tidak memberikan dampak yang berarti. Langkah ini juga bisa dibilang sebagai upaya Jokowi untuk membangun ‘’ menjelang presiden tahun 2019 mendatang.

Seperti diberitakan , Jokowi telah menyerukan infrastruktur yang cepat dalam sebuah pertemuan dengan Toshihiro Nikai, Sekjen Partai Liberal Demokrat yang berkuasa di Jepang, pada tanggal 19 Januari lalu. Ia mengatakan ada lima proyek yang akan melibatkan Negeri Sakura, termasuk Pelabuhan Patimban yang akan dimulai Mei mendatang dan sistem massal cepat (MRT) di Jakarta.

Sebelumnya, Jokowi lebih cenderung mengajak China untuk membangun infrastruktur dalam negeri. Contoh penting adalah proyek kereta api berkecepatan tinggi pertama di Indonesia. Jika kebanyakan negara Asia Tenggara mengadopsi kereta Shinkansen asal Jepang, tetapi untuk menghindari utang, Jokowi memutuskan menerima tawaran China pada bulan September 2015 lalu.

Di samping itu, pemerintahan Jokowi juga telah menerima proposal Negeri Tirai Bambu untuk membangun pembangkit tenaga baru dan proyek lainnya, yang menjanjikan perputaran cepat dan pemerintah tidak perlu mengeluarkan . Investasi langsung China di Indonesia pun naik menjadi 2,7 miliar AS pada tahun 2016, sembilan kali lipat dibandingkan tahun 2013 silam.

Sayangnya, banyak dari proyek ini yang mungkin akan berakhir dengan mimpi. Dua tahun setelah groundbreaking pada jalur kereta api berkecepatan tinggi pada bulan Januari 2016, proyek tersebut hingga sekarang mandek. Pihak China menolak untuk mengucurkan dana yang dijanjikan sampai Indonesia mampu membebaskan semua lahan yang diperlukan.

Indonesia sendiri telah mengalami hambatan dalam rencana untuk meningkatkan infrastruktur dalam negeri dengan berpartisipasi dalam China Belt and Road Initiative. Isu-isu termasuk perselisihan maritim di Laut Cina Selatan juga telah memburuk opini publik mengenai raksasa Asia tersebut, sehingga membuat Jokowi sulit untuk mendorong kerja sama yang lebih baik.

Hanya proyek yang relatif ‘rendah’, seperti jalan raya dan pelabuhan regional, yang membuat kemajuan, sementara inisiatif Jokowi yang paling menonjol menghadapi penundaan. Satu-satunya proyek besar yang masih bisa diselesaikan sebelum pemilihan April 2019 adalah Pelabuhan Patimban dan MRT Jakarta, yang keduanya merupakan proyek gabungan dengan Jepang.

“China telah berjanji untuk melakukan investasi, tetapi sepertinya mereka tidak memberikannya,” ujar salah seorang pejabat Indonesia. “Di sisi lain, Jepang memang lamban dalam merencanakan, tetapi selalu membuat sesuatu terjadi, dan semakin banyak suara di pemerintah mengatakan tidak ada pilihan selain mengandalkan Tokyo.”

Pemilihan kepala daerah akan dilakukan serentak pada bulan Juni tahun ini, yang akan diikuti oleh pemilihan presiden pada bulan April 2019 mendatang. Deadline yang diusulkan sangat sesuai dengan harapan Jokowi untuk membuat kemajuan nyata dalam pembangunan infrastruktur sebelum dirinya kemungkinan akan mengikuti pemilihan ulang tahun depan.

Loading...