Minim Sentimen, Rupiah Melemah 10 Poin di Awal Dagang

Jakarta mengawali hari ini, Rabu (22/3) dengan pelemahan sebesar 10 poin atau 0,08 persen ke level Rp 13.329 per AS. Kemarin, Selasa (21/3) rupiah berakhir terdepresiasi 0,04 persen atau 5 poin ke Rp 13.319 per AS usai bergerak di level Rp 13.293 hingga Rp 13.326 per AS. Pelemahan tersebut sekaligus mengakhiri penguatan mata uang Garuda selama 4 hari berturut-turut.

Menurut Reny Eka Putri, Uang PT Tbk, jika dilihat secara harian sebenarnya gerak rupiah tergolong minim sentimen, baik dari faktor eksternal ataupun internal. Akan tetapi kondisi dalam negeri cukup memberikan dorongan bagi rupiah untuk beranjak naik. “Jadi pelemahan rupiah saat ini merupakan koreksi teknikal,” kata Reny.

Neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus selama 3 bulan pertama tahun 2017 ini. Di samping itu, cadangan devisa negara juga cukup tinggi, yakni mencapai lebih dari 100 miliar. Kemudian angka inflasi juga tergolong stabil dengan target pertumbuhan ekonomi tahun ini yang lebih tinggi dari tahun lalu.

Sementara itu juga sedang berada dalam kondisi yang minim sentimen positif. Pihak investor telah mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga sebanyak 2 kali tahun ini dengan target sekitar 1,5% di akhir tahun.

Setelah dilantik menjadi presiden terpilih Amerika Serikat pun anggaran belanja pemerintahan Donald Trump sampai saat ini masih belum jelas. Pekan ini mata uang Garuda akan menanti pidato dari beberapa pejabat The Fed termasuk Gubernur The Fed, Janet Yellen. “Selama target The Fed tidak berubah, rupiah akan relatif terkontrol,” ucap Reny.

Loading...