Minim Sentimen Positif, Rupiah Lanjut Melemah di Selasa Pagi

Rupiah - manado.tribunnews.comRupiah - manado.tribunnews.com

JAKARTA – Sentimen positif yang masih minim membuat harus memulai perdagangan Selasa (13/11) ini di area merah. Seperti dilaporkan Bloomberg Index, Garuda membuka dengan melemah 43 poin atau 0,29% ke level Rp14.863 per AS. Sebelumnya, spot sudah berakhir terdepresiasi 142 poin atau 0,97% di posisi Rp14.820 per AS pada tutup dagang Senin (12/11) kemarin.

“Indeks dolar AS kembali naik lantaran ekonomi Paman Sam yang dirilis akhir pekan kemarin positif, misalnya Producer Price Index (PPI) bulan Oktober 2018 yang melesat 0,6%,” jelas Direktur Garuda Berjangka, Ibrahim, seperti dilansir Kontan. “Rencana kenaikan juga mendorong greenback, belum lagi masalah perbatasan Irlandia antara Uni Eropa dan Inggris yang belum selesai.”

Sementara itu, Ekonom Bahana Sekuritas, Satria Sambijantoro, menambahkan bahwa mata uang Garuda juga tertekan sentimen negatif dari dalam negeri, seperti defisit transaksi berjalan kuartal III 2018 yang dilaporkan melebar menjadi 3,37% dari produk domestik bruto (PDB). minyak dunia yang sempat naik juga berpengaruh terhadap laju rupiah.

Dari global, indeks dolar AS memang terpantau terus bergerak menguat pada perdagangan Selasa pagi. Mata uang Paman Sam melanjutkan kenaikan sebesar 0,035 poin atau 0,04% menuju level 97,577 pada pukul 08.14 WIB. Sebelumnya, greenback telah berakhir menguat 0,637 poin atau 0,66% di posisi 97,542 pada Senin waktu setempat.

Pada awal pekan kemarin, dolar AS sempat mencicipi level tertinggi dalam 16 bulan terakhir, terdorong ekspektasi mengenai kenaikan suku bunga Federal Reserve. Seperti diketahui, pada rapat kebijakan minggu lalu, bank sentral AS mengisyaratkan masih tetap berada di jalur pengetatan moneter, seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang solid dan upah tenaga kerja yang membaik.

“Indeks dolar AS telah bergerak menguat sepanjang pekan lalu, meski sempat bergerak lebih rendah setelah pengumuman hasil pemilu jangka menengah AS,” tutur ahli strategi mata uang di Bank of Singapore, Sim Moh Siong. “Ke depan, pergerakan mata uang dunia akan dipengaruhi perkembangan sekitar anggaran Italia dan politik Brexit.”

Loading...