Minim Sentimen Positif, Rupiah Dibuka Melemah 2 Poin di Awal Dagang

Jakarta, Rabu (14/9), mata uang garuda dibuka melemah tipis sebesar 0,02 persen atau 2 poin ke posisi Rp 13.170 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah ditutup terapresiasi 68 poin ke Rp 13.168 pada akhir Selasa (13/8) kemarin.

Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta memperkirakan jika peluang The Fed untuk menaikkan suku bunganya pada bulan September 2016 ini terus mengecil. Walau demikian, indeks dolar AS terus menguat, terutama setelah mentah kian anjlok di pasaran.

Selain itu, (European Central Bank/ECB) yang tidak menetapkan kebijakan apapun pekan lalu ternyata menambah kekecewaan para investor. Sampai FOMC meeting pekan depan, dolar AS diprediksi masih akan terus menguat.

Sedangkan rupiah pada hari ini kemungkinan dapat terdepresiasi mengingat makin rendahnya optimisme pemerintah tentang pertumbuhan di masa yang akan datang dan juga perpanjangan periode pengumpulan .

“Keraguan pemerintah ini pasti akan terbaca pasar dan imbasnya negatif,” kata Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, Faisyal.

“Untuk jangka pendek, pelemahan bisa terjadi walaupun sempit. Mengingat eksternal juga yang sedang minim pergerakan akibat aksi wait and see pasar terhadap FOMC,” papar Analis Pasar Uang PT Bank Mandiri Tbk, Reny Eka Putri.

Sementara itu Kepala PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada mengungkapkan jika rupiah rentan terkoreksi lantaran masih belum ada sentimen dari sisi yang dapat mendukung pergerakannya. “Memang, belum adanya sentimen dari dalam negeri membuat laju rupiah rentan terhadap berbagai sentimen yang mendukung penguatan laju dolar AS,” tandasnya.

Loading...