Minim Katalis Domestik, Rupiah Melemah Tipis di Awal Dagang

Meski reli penguatan dolar AS selama dua pekan harus terhenti, namun risiko pelemahan masih terbuka pada perdagangan Selasa (22/11) ini. Pasalnya, pelaku pasar masih cenderung beralih ke the di tengah kekhawatiran kenaikan suku bunga acuan , selain minimnya katalis dari dalam negeri.

Seperti diwartakan Bloomberg Index, rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan tipis 4 poin atau 0,03% ke level Rp13.410 per dolar AS. Kemudian, pada pukul 08.38 WIB, spot kembali terdepresiasi 11 poin atau 0,08% ke posisi Rp13.417 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS juga terpantau dibuka 0,290 poin atau 0,29% ke level 100,760.

“Pelaku pasar cenderung beralih ke dolar AS di tengah kekhawatiran naiknya suku bunga The Fed,” ujar Ekonom , Josua Pardede. “Selain itu, rupiah juga memiliki peluang kembali melemah mengingat masih minimnya sentimen positif dari dalam negeri.”

Josua menuturkan, dari dalam negeri masih terjadi capital outflow di pasar obligasi. Padahal, kebijakan mempertahankan suku bunga acuan diharapkan mampu meredam angka capital outflow yang lebih besar. “Isu demonstrasi di Jakarta juga berpotensi membawa kekhawatiran pasar sehingga menambah tekanan bagi mata uang Garuda,” sambung Josua.

“Sentimen yang bisa memengaruhi rupiah adalah rilis pekan depan,” lanjutnya. “Sebelum diumumkan, pergerakan mata uang lebih banyak dipengaruhi sentimen data AS serta rilis notulensi rapat FOMC.”

Josua pun berharap, Bank masih akan berada di pasar untuk melakukan intervensi maupun langkah stabilisasi lain. “Rupiah hari ini kemungkinan bakal bergerak di kisaran Rp13.375 hingga Rp14.375 per dolar AS,” pungkasnya.

Loading...