Minim Daya, Rupiah Berakhir Drop Jelang FOMC Meeting

Rupiah tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk keluar dari zona negatif sepanjang Selasa (19/9) ini menjelang pertemuan , . Menurut catatan Index pukul 15.59 WIB, mata uang NKRI memungkasi hari ini dengan pelemahan sebesar 24 poin atau 0,18% ke level Rp13.279 per dolar AS.

Sebelumnya, pada perdagangan awal pekan (18/9) kemarin, rupiah harus ditutup terdepresiasi 15 poin atau 0,11% ke posisi Rp13.255 per dolar AS. Kemudian, pagi tadi, mata uang Garuda belum beranjak dari zona merah setelah dibuka melemah 5 poin atau 0,04% ke level Rp13.260 per dolar AS. Lalu, sepanjang hari ini, spot bergerak di rentang Rp13.252 hingga Rp13.278 per dolar AS.

Fokus saat ini memang tertuju pada pertemuan kebijakan tanggal 19-20 September waktu setempat. Meski Bank Sentral AS tersebut diperkirakan masih akan mempertahankan Fed rate, namun pasar tetap memperhatikan sinyal prospek kenaikan suku bunga di akhir tahun serta rencana dimulainya penyusutan neraca sebesar 4,5 triliun dolar AS. “Kami sudah pasti melihat beberapa penyesuaian pada probabilitas kenaikan suku bunga bulan Desember,” ujar kepala perdagangan Pasifik untuk Oanda, Stephen Innes.

Selain itu, pelaku pasar juga tetap memperhatikan risiko geopolitik menjelang penyampaian pidato oleh Presiden AS, Donald Trump, dalam sidang tahunan Majelis Umum pada hari ini. Pidato Trump ini diperkirakan masih akan berkaitan dengan isu utama seputar denuklirisasi Korea Utara dan Iran. Dalam pidato pertamanya kemarin, Trump mengatakan birokrasi dan ‘salah urus’ telah menghambat mewujudkan potensinya secara penuh.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi mematok kurs tengah berada di posisi Rp13.258 per dolar AS, terdepresiasi 20 poin atau 0,15% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.238 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia bergerak mixed versus greenback, dengan penguatan tertajam sebesar 0,18% dialami dolar Hong Kong dan pelemahan terdalam sebesar 0,29% menghampiri won Korea Selatan.

Loading...