Miliki Program S1 Desain Interior, Kisaran Biaya Kuliah di Binus Di Atas Rp 20 Jutaan

biaya, kuliah, desain, interior, binus, di, program, s1, malang, kampus, swasta,jakarta, universitas, bina, nusantara, tahun, akademik, 2018/2019, sekitar, atas, Rp 20 jutaan, arsitektur, mahasiswaDesain interior rumah mewah yang menawan

Kualitas para penggiat di bidang di Indonesia dinilai tidak kalah dibanding luar. Sebagai contoh terlihat dari hasil-hasil yang ditampilkan di HDII (Himpunan Desainer Indonesia) Awards 2017.

Menurut ketua HDII, Lea Aviliani Eziz, banyak desainer muda Indonesia yang sudah bekerja di perusahaan-perusahaan di luar negeri. “Di satu sisi keren, di sisi lain menyedihkan. Orang-orang yang berkualitas justru pindah ke luar negeri, dengan alasan karya-karya mereka kurang dihargai di negerinya sendiri,” ujar Lea.

Menurut Lea, desain Indonesia kurang berkembang disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah di sisi pendidikan yang kurang memberikan informasi yang sebenar-benarnya.

Bagi Anda yang tertarik untuk belajar desain interior, bisa menempuh pendidikan di beberapa atau universitas, misalnya di Universitas Bina Nusantara (Binus). swasta itu dianggap sebagai salah satu yang diminati oleh calon . Tidak hanya di Jakarta, Binus juga miliki cabang di Malang.

Untuk kuliah di Program S1 Desain Interior Binus Malang, terdiri dari beberapa komponen . Di tahun akademik 2018/2019, kuliahnya terdiri dari di 1 sebesar Rp 4,5 juta, ditambah laboratorium Rp 4,2 juta, peralatan sebesar Rp 2,6 juta, dan sumbangan (DP3) sebesar Rp 13 juta. Untuk DP3 dibayarkan hanya satu kali selama masa . Jika ditotal, kuliahnya di atas Rp 20 jutaan.

Tidak hanya dapat bekerja dengan membuka usaha sendiri, mahasiswa Binus nantinya juga bisa bekerja sama dengan orang-orang yang mendukung bidang pekerjaan mereka. Seperti yang dilakukan oleh Muhammad Egha. Ia terbilang berhasil membangun perusahaan yang bergerak di bidang perencanaan dan desain interior. Sejumlah penghargaan berskala nasional maupun internasional sudah pernah diraihnya.

Egha tidak sendirian dalam menjalankan usahanya. Ia bersama dengan Sunjaya Askaria dan Hezby Ryandi, sahabatnya semasa kuliah. Bersama mereka, Egha mendirikan Delution Design Revolution. Di tahun 2014, Fahmy Desrizal ikut bergabung.

“Sampai akhirnya saat bangun perusahaan itu, saya butuh partner. Saya pilih mereka itu, anak Binus (Bina Nusantara) juga. Mereka ini pernah jadi ketua dan wakil himpunan (arsitek) di bawah saya. Jadi kita ini sudah lama berorganisasi bareng, dari sejak kuliah itu kita bareng. Dari main bareng, nongkrong bareng, belajar bareng dan akhirnya kerja bareng. Sampai akhirnya bertiga bikin perusahaan bareng,” kata Egha.

Di tangan Egha dan teman-temannya, Delution Design Revolution, tumbuh menjadi perusahaan bergengsi. Kini omzet dari perusahaan yang bergerak di bidang perencanaan arsitektur dan desain interior ini mencapai Rp 20 miliar per-tahun.

“Kita udah nanganin beberapa klien, dari mulai perorangan sampai corporate. Kalau sekarang ada kantornya Bodyshop kita juga lagi kerjain, kantornya Traveloka kita juga lagi ngerjain, kantornya partai Golkar DKI Jakarta. Intinya klien kita seimbang antara korporat dan perorangan,” tukas Arsitek lulusan Universitas Bina Nusantara pada tahun 2012 itu.

Loading...