Miliki Kisah Unik Pada Awal Berdirinya, Biaya Pesantren Tapak Sunan Dinilai Terjangkau

biaya, pesantren, tapak, sunan, nama, santri, peserta, didik, baru, tahun, akademik, 2018/2019, formulir, biaya, pendaftaran, tulis, wawancara, praktik, ekstrakurikuler, salafiyah, SPP, bulanan, daftar, ulang, terjangkau, pondok, ponpesAktivitas penghuni pondok pesantren di depan masjid

Masing-masing (ponpes) memiliki kisah unik tersendiri pada awal berdirinya. Tidak terkecuali dengan Ponpes Tapak Sunan yang beralamat di Jl. Kayu Manis AMD 28 RT 03/05 No.39, Condet Balekambang, Jakarta Timur. Konon, para wali songo dulunya pernah menapaki tanah area ponpes.

Mengapa diberi nama Tapak Sunan? Menurut KH. Drs. Muhammad Nuruddin Munawar, pengasuh Ponpes Tapak Sunan mengatakan, “Sunan Gunung Jati pernah lewat sini ke Banten, entah untuk tujuan apa,” ujarnya.

Dengan nama tersebut, Kiai Nuruddin berharap para bisa mengikuti jejak para sunan yang memiliki tekad kuat dalam mengajarkan dan menyebarkan . Tidak hanya itu, sebelum dibangun ponpes, Kiai Nuruddin pernah berjumpa dengan seorang kiai di Demak yang dipandang sebagai seorang wali.

Di bawah Ponpes Tapak Sunan, terdapat beberapa lembaga pendidikan seperti Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), dan Madrasah Islamiyah Salafiyah (MIS). Tahun 2018/2019 ponpes membuka penerimaan peserta didik baru untuk MTS-nya. Untuk setiap pendaftar, wajib mengisi formulir dan melengkapi berkas seperti fotokopi ijazah, SKHUN, rapor, NISN, dan lainnya. Setelah mendaftar, calon peserta didik baru juga akan mengikuti ujian tulis dan praktik, serta wawancara.

Selain melengkapi berkas dan mengikuti ujian, ada biaya-biaya yang harus dibayarkan, yaitu biaya formulir sebesar Rp 300 ribu, daftar ulang Rp 8 juta dan SPP bulanan Rp 600 ribu. Biaya tersebut dianggap terjangkau. “Mungkin ini yang termurah di Jakarta,” ujar Muhammad Arif Sholahuddin.

Di Ponpes Tapak Sunan, kegiatan dimulai mulai dari pukul 03.00 WIB hingga 22.00 WIB. Menurut Kepala MA Tapak Sunan, Muhammad Arif Sholahuddin mengatakan bahwa walaupun merupakan pondok salafiyah, tetapi ponpes selalu berusaha mengombinasikan dengan masyarakat Jakarta.

“Jika Jawa Timur menjadi sentral pondok salaf, tapi di sini kita kombinasikan dengan kebutuhan masyarakat Jakarta, yang paling penting ya revolusi mental itu,” jelas Kepala Sekolah MA Tapak Sunan.

Anak pertama Kiai Nuruddin itu melanjutkan, jika di Jawa Timur persentase kajian kitab kuningnya 80 persen, di Tapak Sunan kitab kuningnya hanya 40-50 persen, sedangkan sisanya dikombinasikan dengan muatan pendidikan reguler yang berafiliasi dengan Kementerian Agama. Sementara, kata dia, materi lokalnya juga selalu disisipkan dengan pembentukan karakter. “Kita fokus di pembentukan karakter,” ujar Arif.

Setiap Sabtu, para santri mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di area pesantren, seperti latihan marawis, latihan silat, latihan drum band, futsal, voli, dan lain-lain. Menurut Arif, sejak dini para santri sudah dilatih untuk mengurus dirinya sendiri dan lingkungan sekitar. “Misalnya, jika mereka terbiasa memungut sampah sejak awal, ke depannya apa yang tidak normal di masyarakat juga bisa diselesaikan oleh santri,” jelas Arif.

Loading...