Migran di Eropa Kewalahan Hadapi Pandemi, Kelaparan Hantui Afrika

Masyarakat Kelaparan di Afrika - www.trt.net.trMasyarakat Kelaparan di Afrika - www.trt.net.tr

MADRID/ROMA – Dampak dari pandemi virus corona dirasakan di seluruh dunia di antara berbagai sektor masyarakat, mulai pekerja yang harus cuti hingga bisnis kecil yang terpaksa tutup. Bagi yang lain dalam posisi yang lebih rentan, seperti para migran tidak berdokumen di seluruh Eropa dan keluarga mereka yang bergantung di , lockdown membuatnya lebih sulit, bahkan harus makan cuma sekali sehari untuk bertahan hidup.

Berdasarkan data Pew Research Center, seperti dilansir TRT World, ada 4,8 juta pekerja tidak berdokumen di Eropa, dengan 21 persen berasal dari Timur Tengah dan Afrika Utara, serta 17 persen dari Afrika sub-Sahara. Oksana Abboud, koordinator internasional di StreetNet International, sebuah organisasi yang mewakili pedagang kaki lima di seluruh dunia, mengatakan bahwa dengan penyebaran Covid-19, perjuangan untuk bertahan hidup mereka naik dua atau tiga kali lipat.

Salah seorang warga Aljazair, Farah, yang tinggal di Madrid tanpa resmi, menuturkan bahwa dirinya cuma makan sekali sehari selama dua bulan sejak membayar tagihan dan sewa. Perjalanannya menuju Spanyol sendiri sangat sulit. Dia harus membayar lebih dari 6.000 euro untuk ‘mafia’, tetapi harus kembali ke rumah setelah ditahan oleh pihak berwenang.

Pada upaya kedua tahun 2006, pihak berwenang kembali menahannya, mengirimnya ke pusat penahanan di Ceuta. Ia menghabiskan enam bulan di sana bersama putranya yang berusia 14 tahun, kemudian mendapatkan tempat tinggal sementara di Spanyol. Namun, karena tidak punya dokumen, dia tidak mendapatkan hal-hal seperti pensiun. “Bayangkan sekarang menjadi tanpa pekerjaan dan tanpa penghasilan,” katanya.

Sebuah studi baru-baru ini oleh Organisasi Buruh Internasional (ILO) memperkirakan bahwa 1,6 miliar pekerja informal secara telah kehilangan 60 persen penghasilan sejak pembatasan sosial diberlakukan. Farah ingin agar pekerja tidak berdokumen diakui dan diformalkan oleh untuk meningkatkan status ekonomi mereka dan menghindari risiko deportasi.

StreetNet International menganjurkan layanan universal dan bantuan uang tunai darurat bagi mereka yang paling rentan, terlepas dari kebangsaan dan status tempat tinggal di seluruh dunia. Di Italia, pihak berwenang setempat sedang mempertimbangkan prospek amnesti, dengan mengesahkan 600.000 pekerja migran tidak berdokumen, mengikuti masalah ketahanan pangan dan rantai pasokan di negara tersebut.

“Pekerja tak berdokumen semacam itu di negara-negara Eropa mungkin merasa lebih terlindungi dan lebih aman karena mereka mendapatkan beberapa paket bantuan dari pemerintah Eropa (nasional dan lokal),” tutur Abboud. “Tentu saja mereka tidak akan kembali ke rumah mereka di Afrika. Sebaliknya, mereka membantu kerabat dengan mentransfer pengiriman uang agar mereka dapat mempertahankannya.”

Lebih dari 550 miliar AS uang dikirim tahun lalu di seluruh dunia menurut Bank Dunia, dengan 48 miliar AS menuju ke Afrika sub-Sahara. Namun, sekarang organisasi ini memperingatkan pandemi telah memengaruhi pengiriman uang. “Pengamat memprediksi penurunan yang cukup besar dalam aliran pengiriman uang pada kuartal I 2020 yang tidak terlihat sejak awal tahun 2008,” papar Paul Vaaler, seorang profesor di fakultas hukum dan sekolah bisnis Universitas Minnesota.

Menurut Bank Dunia, pengiriman uang memainkan peran pendorong dalam mengentaskan kemiskinan bagi negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah, serta membantu mengatasi kerawanan pangan dan kebutuhan mata pencaharian. Mereka memperingatkan bahwa penurunan tersebut merupakan ‘hilangnya garis hidup pembiayaan yang penting bagi banyak rumah tangga yang rentan’ selama pandemi.

Di Zimbabwe, Program Pangan Dunia PBB telah memperingatkan bahwa setidaknya delapan juta orang di negara itu membutuhkan bantuan pangan selama pandemi, sebuah negara yang dilaporkan menerima pengiriman uang senilai 1,8 miliar dolar AS pada tahun 2018. Wisborn Malaya, Sekjen Zimbabwe Chamber of Informal Economy Associations, menuturkan bahwa lockdown membuat orang-orang kelaparan dan menderita.

“Banyak keluarga yang rentan bekerja secara informal dan ‘hidup langsung’ karena bantuan pemerintah lambat,” katanya. “Beberapa keluarga hanya makan sekali sehari. Negara ini menderita inflasi 600 persen. Draft telah berdampak pada ketahanan pangan dan sekarang negara ini mengimpor sumber makanan pokoknya, tepung jagung.”

Dampak ekonomi dari kuncian itu memang telah menciptakan tantangan secara global untuk sektor-sektor yang rentan, khususnya di sekitar ketahanan pangan. PBB telah memperingatkan 821 juta jiwa akan tidur kelaparan dan bahwa 135 juta sedang ‘menghadapi tingkat kelaparan’. PBB sendiri sudah mengeluarkan permohonan 6,7 miliar dolar AS yang bertujuan untuk ‘melindungi jutaan nyawa dan membendung penyebaran virus corona di negara-negara rapuh’.

“Kami tidak hanya menghadapi pandemi kesehatan global, tetapi juga bencana kemanusiaan global,” tandas David Beasley, Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia PBB. “Sangat penting bagi kita sebagai satu komunitas global yang bersatu untuk mengalahkan penyakit ini, dan melindungi negara dan komunitas yang paling rentan dari dampak yang berpotensi menghancurkan.”

Loading...