Meski Menguat, Rupiah Masih Dibayangi Sentimen Negatif Eksternal

Jakarta – tampil prima di pembukaan sesi awal pagi ini (13/1). Dikutip oleh Bloomberg, dibuka pada level Rp 13.895 per Dolar AS, yakni menanjak 15 poin (0,11%) pada perdagangan Rabu pagi. Tak lama berselang, mata uang Garuda kembali memperbaiki posisi dengan naik 38 poin (0,27%) ke level Rp 13.872 per Dolar AS.

“Pagi ini ditunggu angka Tiongkok, yang diperkirakan menipis surplusnya,” ujar Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta, dalam hasil risetnya yang diterima pagi ini (13/1).

Menurut Rangga Kebijakan bank sentral (PBoC) atas pergerakan dan respon ekonomi negara Tiongkok tersebut masih akan menjadi faktor eksternal paling berpengaruh terhadap Rupiah. Rangga juga memprediksi, pergerakan Rupiah hari ini masih akan diselimuti sejumlah sentimen negatif terkait kembali turunnya harga dunia.

“Pelemahan Rupiah berpeluang bertahan di hari ini,” katanya.

Seperti diketahui, Yuan tergerus tipis pada perdagangan kemarin sore (12/1). Pelemahan mata uang Tiongkok ini menyeret sejumlah mata uang Asia untuk serentak melemah. Sedangkan harga minyak seperti tak bisa diperbaiki. West Texas Intermediate () bahkan sempat menembus harga di bawah USD 30 per barelnya.

Bank sentral China (PBoC) terpaksa mengintervensi market dengan mengeringkan likuiditas Yuan, sehingga memunculkan konsekuensi untuk meningkatkan jangka pendek dengan drastis. Selain itu, PBoC juga masih rajin memasok Dolar AS sebagai .

Loading...