Meski Masih Tertekan Sentimen Eksternal, Rupiah Berhasil Menguat di Awal Dagang

Rupiah - www.tangandiatas.comRupiah - www.tangandiatas.com

Jakarta – Nilai tukar dibuka naik 23 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp 13.793 per di awal pagi hari ini, Jumat (9/3). Kemarin, Kamis (8/3) Garuda berakhir terdepresiasi 56 poin atau 0,41 persen ke level Rp 13.816 per USD usai diperdagangkan pada kisaran angka Rp 13.760 hingga Rp 13.816 per .

Sementara itu, dolar AS terpantau terhadap sebagian besar mata uang utama. Di akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS 0,58 persen menjadi 90,163 lantaran para pelaku sedang menanti rincian terkait rencana tarif baja dan aluminium dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Dolar AS sedikit terkatrol usai Gedung Putih mengisyaratkan jika Kanada dan Meksiko bisa dibebaskan dari rencana tarif impor yang diajukan oleh Trump. Trump sendiri diperkirakan bakal mengumumkan rincian tarif impor tersebut pada akhir pekan ini. Pekan lalu Trump sempat menyebutkan bahwa rencananya akan menerapkan tarif 25 persen untuk impor baja dan 10 persen untuk aluminium.

Dari sektor ekonomi, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa pada pekan yang berakhir 3 Maret, angka pendahuluan untuk klaim awal yang disesuaikan secara musiman mencapai 231.000, naik 21.000 dari tingkat sebelumnya yang tak direvisi pada 210.000. Rata-rata pergerakan 4 minggu mencapai 222.500, naik 2.000 dari rata-rata minggu sebelumnya yang tak direvisi sebesar 220.500.

Beralih ke zona Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) memutuskan untuk menahan suku bunga utama tidak berubah. “Tingkat suku bunga pada operasi-operasi pembiayaan kembali atau refinancing utama dan suku bunga pada fasilitas pinjaman marjinal dan fasilitas deposito akan tetap tidak berubah pada 0,00%, 0,25% dan -0,4%,” demikian bunyi pernyataan ECB seperti dilansir Okezone.

Sedangkan untuk mata uang rupiah, menurut Putu Agus Pransuamitra, analis Monex Investindo, rupiah masih terus tertekan oleh sentimen eksternal lantaran pasar terus mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan The Fed. Faktor kedua tentu saja terkait kebijakan tarif impor AS. Putu mengatakan jika ketegangan itu akan teredam apabila AS berhasil mencapai kesepakatan Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA). “Ada wacana Presiden Trump bakal mencabut tarif impor jika proposal NAFTA yang baru disetujui. Kalau ini terjadi, rupiah bisa mendapat sentimen positif,” katanya.

Pada perdagangan hari ini Putu memprediksi jika rupiah berpeluang untuk melanjutkan penguatannya. Terutama karena Bank Indonesia kemungkinan akan melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Loading...