Meski Data Defisit Neraca Dagang Buruk, Rupiah Berhasil Rebound di Pembukaan

Rupiah - www.aktual.comRupiah - www.aktual.com

Jakarta dibuka menguat 10,5 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp 14.452,5 per di awal pagi hari ini, Kamis (16/5). Kemarin, Rabu (15/5), nilai tukar Garuda berakhir terdepresiasi 29 poin atau 0,20 persen ke level Rp 14.463 per .

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap enam mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik 0,04 persen menjadi 97,5705 di tengah pelemahan pound sterling Inggris karena kisruh yang berkepanjangan.

Pada Rabu, Perdana Menteri Inggris Theresa May mengonfirmasi jika ia masih bersikeras menginginkan Inggris keluar dari Uni Eropa. Tetapi PM Theresa May menolak referendum kedua tentang Serikat Kepabeanan Uni Eropa. Laporan media di London menyebutkan jika May akan mengajukan proposal Brexit pada Parlemen (MP) di awal Juni 2019 mendatang untuk keempat kalinya, demikian seperti dilansir Antara.

Downing Street menyebutkan, pemerintah berencana menerbitkan RUU Penarikan Perjanjian di pekan pertama Juni mulai tanggal 3 untuk memaksa anggota parlemen ke dalam pilihan antara kesepakatan di atas meja atau kemungkinan dibatalkannya Brexit. Tetapi, Partai Serikat Demokrat (DUP) di House of Commons dilaporkan secara tegas tak berencana mendukung RUU tersebut.

Dalam perdagangan sebelumnya, rupiah masih ditekuk oleh USD lantaran data defisit Indonesia yang di atas ekspektasi. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, data defisit perdagangan bulan April 2019 mencapai USD 2,5 miliar. Angka tersebut dinilai mengejutkan karena jauh di atas perkiraan para analis.

Terlebih karena defisit neraca dagang tersebut adalah rekor terburuk sepanjang sejarah Indonesia. “Memburuknya kondisi fundamental dalam negeri dan terpaan negatif dari dagang, semakin membuat pelaku pasar memilih untuk berlindung di balik dollar AS,” ucap Deddy Yusuf Siregar, Analis Asia Trade Point Futures, seperti dikutip dari Kontan.

Analis Pasar Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri pun mengatakan, peluang berakhirnya perang dagang pun pupus lantaran Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan kembali bertemu pada Juni 2019 depan. Oleh karena itu, dolar AS lagi-lagi dipilih sebagai aset safe haven.

Loading...