Merek-merek ini Curi Perhatian dengan Produk ‘Out of The Box’

Out of The Box - asia.nikkei.com

Pusat perbelanjaan saat ini memang menyediakan beberapa ruang bagi untuk dapat ‘melarikan diri’ dari asap mobil dan kelembapan yang menindas di Jakarta. Namun, sebuah generasi baru telah menyiapkan di luar mal dan menegasikan asumsi bahwa hanya membuat -barang murah untuk ekspor dan konsumen cuma mau membeli branded dari luar negeri.

Beau misalnya, sebuah rumah roti yang didirikan oleh Talita Setyadi, yang menjual roti dan kue-kue grosir untuk kafe, restoran, dan hotel, serta bisnis. Didirikan sejak tahun 2014, Beau menghadirkan outlet baru di sudut petak Jalan Cikajang yang dibuka pada September 2016. Beau sendiri menggabungkan -bahan asal Indonesia dengan teknik memasak ala Perancis.

“Di Indonesia, Anda memiliki bahan-bahan yang luar biasa, seperti jeruk limau, pisang, mangga, ramuan yang disebut kluwek, yang tidak pernah Anda temukan di tempat lain,” kata Talita. “Jadi, saya melihat ada untuk menggabungkan teknik tradisional Perancis dengan bahan asli dalam negeri.”

Sementara itu, Indoestri lebih berkutat pada desain produk yang bertujuan memulai usaha kecil menuju profitabilitas. Desainer dan pengusaha pemula perlu membayar untuk menggunakan ruang, dengan biaya keanggotaan bulanan biaya Rp400.000. Pendapatan ini dilengkapi dengan sebuah kafe di tempat yang terbuka untuk umum dan program yang dikemas terbuka untuk anggota dan bukan anggota.

“Sangat mudah untuk memulai di Indonesia. Tetapi, banyak orang yang bergabung untuk alasan yang salah, hanya untuk bermain dalam menjalankan sebuah . Kata ‘entrepreneur’ telah kehilangan maknanya,” jelas pendiri Indoestri, Leonard Theosabrata. “Dengan Indoestri, saya berharap dapat mengajarkan desainer produk pentingnya bekerja dengan tangan mereka dan merehabilitasi kata itu dalam proses.”

Di bidang fashion, merek Ara muncul atas inisiatif Toton Januar, seorang perancang busana, bersama sesama fashionista yang didirikan pada tahun 2015. “Sudah ada toko yang menjual merek lokal untuk orang-orang muda dan pasar massal. Tetapi, di pasar mewah, kami yang pertama,” tukas Toton.

Ara, yang berarti ‘ara’ di Indonesia, adalah ruang yang terang, minimalis, terletak di lingkungan Kemang. Potongan pakaian wanita di rak-nya adalah dari koleksi ready-to-wear dari beberapa label busana terbaik di Indonesia. Banyak dari desain pakaian yang mencerminkan estetika khas Indonesia. Toton misalnya, melakukan repackage budaya Indonesia dalam pakaian wanita kontemporer dengan cerdik menghidupkan kembali pakaian dan kerajinan tradisional, seperti kebaya dan batik.

Sementara itu, Pipiltin Cocoa didirikan oleh Tissa Aunilla atas kegelisahannya melihat fakta bahwa Indonesia merupakan produsen kakao terbesar ketiga di dunia, namun di pasar domestik justru dibanjiri dengan cokelat impor. Karena itu, pada tahun 2013, dirinya memutuskan berhenti sebagai pengacara sebuah perusahaan dan memulai bisnis Pipiltin Cocoa.

Saat ini, Pipiltin memasok persediaan cokelat untuk hotel di Jakarta, termasuk Grand Hyatt dan Fairmont Hotel. Perusahaan bertujuan menempatkan Indonesia untuk bersaing dengan Swiss dan Belgia dalam pasar cokelat. “Ketika kami pertama kali memulai, kami sedang membuat setengah ton coklat sebulan. Sekarang, kami bisa membuat antara sembilan dan hingga 11 ton,” jelas Irvan Helmi, saudara Tissa Aunilla.

Di lain sisi, Tulisan yang didirikan pada tahun 2010, telah berkembang menjadi sebuah perusahaan dengan jangkauan seluruh dunia. Produk tekstil Tulisan saat ini telah dipasarkan di Los Angeles, Singapura, Seoul, Taipei, serta terdapat tiga butik di Jakarta. Tulisan sendiri merupakan brand yang memproduksi tekstil dengan desain unik, mencakup sarung bantal, handuk, celemek, hingga tas dan keramik, yang menggandeng perajin lokal.

“Ada ateliers menakjubkan di distrik Jakarta, tetap mereka undervalued,” jelas pendiri Tulisan, Melissa Sunjaya. “Dan, saya ingin melakukan sesuatu untuk masyarakat tersebut.”

Loading...