Menunggu Arah Kebijakan ECB, Rupiah Terkoreksi di Pembukaan

Rupiah - publiksatu.comRupiah - publiksatu.com

Jakarta dibuka melemah sebesar 23 poin atau 0,16 persen ke level Rp 14.000 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (26/7). Sebelumnya, Kamis (25/7), kurs Garuda berakhir terapresiasi 20 poin atau 0,14 persen ke posisi Rp 13.977 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau sedikit menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik sebesar 0,10 persen menjadi 97,8246 di tengah pelemahan pound sterling Inggris.

Pelemahan poundsterling terjadi usai pemimpin Partai Konservatif yang baru terpilih, Boris Johnson menjabat sebagai perdana menteri Inggris pada Rabu, sehingga memicu ketidakpastian . Johnson terpilih menjadi perdana menteri yang baru saat Inggris tengah dihadapkan pada batas waktu yang sudah semakin dekat, yakni tanggal 31 Oktober 2019.

Pada pidato pertamanya di hadapan rakyat Inggris, ia berjanji untuk membawa itu keluar dari Uni Eropa pada 31 Oktober 2019, dengan mengatakan “tidak ada jika, tidak ada tapi.” Boris Johnson pun menunjukkan keyakinan bahwa Brexit dapat dilakukan karena “kami akan memecahkan ini dalam 99 hari, tetapi kami tidak akan menunggu sampai saat itu.”

Di sisi lain, rupiah kemarin menguat karena dipicu oleh dolar AS yang tertekan lantaran kembali mempertimbangkan sikap dovish (Federal Reserve). Selain itu, menurut Analis Monex Investindo Futures Faisyal, pelaku pasar yang melihat adanya harapan dan titik terang dari negosiasi Amerika Serikat dengan China yang dimulai pekan depan juga membuat dolar AS tertekan, sehingga menguntungkan gerak rupiah.

Sedangkan dari dalam negeri yang kemarin membuat rupiah menguat adalah respons positif dari pasar setelah ditunjuknya Destry Damayanti sebagai Deputi Gubernur Senior Bank . Faisyal memprediksi bahwa gerak rupiah pada hari ini akan tergantung pada kebijakan moneter European Central Bank (ECB) nanti malam. “Jika ECB memangkas suku bunga maka dollar AS berpotensi menguat dan rupiah bisa melemah di awal perdagangan besok,” ujar Faisyal, seperti dilansir Kontan.

Tetapi, Faisyal memperkirakan jika rupiah cenderung melemah secara terbatas lantaran pasar juga mengantisipasi pertumbuhan AS yang diproyeksi lebih rendah dan semakin membuat The Fed bertindak dovish. “Rupiah besok berpeluang melemah di pagi hari dan menguat terbatas di penutupan,” tandasnya.

Loading...