Menjadi Bahan Baku Lilin, Harga Parafin Naik Jadi Rp 14 Ribu Per Kg

harga, parafin, per, kg, bahan, baku, lilin, imlek, 2018, naik, kilogram, impor, ton, ukuran, desain, buah, di, pewarna, pewangi, biaya, proses, jumlah, crude, palm, oil, CPO, go-greenParafin padat dalam bentuk butir (sumber: polysciences.com)

adalah samping hasil pengolahan bumi mentah. Parafin disebut juga BPM. Pemakaian parafin adalah untuk campuran klowong dan tembokan karena harganya murah.

Lilin parafin banyak dipakai juga pada perayaan Imlek. Namun, di Imlek tahun 2018, para perajin lilin mengeluhkan naiknya bahan baku parafin di sebuah industri lilin, Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Perajin lilin mengeluhkan bahan baku parafin yang naik dari Rp 12.000 menjadi Rp 14.000 per kilogram (kg) sehingga mengurangi jumlah keuntungan meski permintaannya naik 20 persen seiring momentum menjelang Tahun Baru Imlek.

Di beberapa online, parafin juga bisa ditemukan. Harga yang ditetapkan mungkin lebih mahal, terlebih jika itu didapatkan secara impor. Parafin per kilonya bisa sekitar $ 2.424 atau sekitar Rp 32 jutaan. Namun, jika Anda membeli dalam jumlah lebih banyak lagi seperti dalam hitungan ton, harga bahan baku parafin bisa lebih murah.

Meskipun terkenal sebagai bahan baku lilin, namun ternyata beberapa orang sudah mulai meninggalkan bahan tersebut. Sebagai gantinya, digunakanlah crude palm oil (CPO) atau kelapa sawit. Alasan digunakan bahan itu karena dinilai lebih go-green.

“Bila dinyalakan, lilin parafin menyisakan asap dan jelaga, sementara lilin dengan bahan baku kelapa sawit ini tidak, lilin akan habis menguap,” ujar pebisnis lilin, Lani Darmadi.

Desain cetakan lilin yang diciptakan Lani beragam seperti bunga, binatang, buah, patung hingga tengkorak. Agar lilin semakin menarik, Lani membuat lilin dalam berbagai pilihan warna. Pilihan aromanya juga banyak, misalnya ada aroma yang bisa mengusir nyamuk dan lalat.

“Kami mendatangkan pewarna dan pewangi lilin ini dari Eropa, Hong Kong, Jerman, Swiss, Perancis dan Selandia Baru sehingga ramah lingkungan,” jelas Lani.

Setiap bulannya, Lani dapat memproduksi 4-6 ton lilin CPO ini. Sekitar 90 persen lilin buatannya diekspor ke Jerman, Swiss, Prancis, Swedia, Jepang dan Korea. Dengan mempekerjakan 30 orang, Lani dapat mengantongi omzet Rp 500 juta per bulan.

Tidak gampang menjalani yang sudah berjalan sejak 1999 itu. Dengan modal awal sekitar Rp 100 juta, Lani harus berani bersaing dengan perusahaan lilin lainnya. Maklum saja, hingga saat ini kurang mendukung dalam industri kreatif, belum lagi mahalnya UMR bagi para pekerja.

Untungnya berkat pengalaman semasa kuliah di Jerman dengan mengambil jurusan kimia, Lani mampu mengecilkan biaya dalam proses pengelola lilinnya. Untuk pemasarannya, Biolina alias lilin CPO dilakukan secara online, dan sisanya dijual melalui pameran, hotel yang ada di Jakarta dan Bali. Rentang harga lilin buatan Biolina sekitar Rp 10 ribu hingga Rp 300 ribu per buah. Ukuran dan desain menentukan harga.

Loading...