Menggali Riwayat Brahim Aouissaoui, Pelaku Serangan di Nice

Brahim Aouissaoui - www.bbc.comBrahim Aouissaoui - www.bbc.com

SFAX – Brahim Aouissaoui, pria berusia 21 tahun yang diduga membunuh tiga orang menggunakan pisau di sebuah gereja di Nice, Prancis, kabarnya tidak menunjukkan gelagat aneh sebelum bertolak dari kampung halamannya di Tunisia. Penyelidik Tunisia pun tidak menemukan bukti radikalisasi Brahim, menyimpulkan bahwa dia tidak memiliki niat yang direncanakan untuk membunuh orang tak bersalah di Eropa dalam serangan teror.

Dilansir dari TRT World, menjalani di sebuah rumah sakit di Prancis setelah ditembak delapan kali oleh , Brahim sebelumnya menjalani kehidupan biasa di Tunisia, yang mirip dengan pemuda seusianya. Seorang juru bicara pengadilan Tunisia mengatakan kepada pers lokal bahwa tidak memiliki catatan yang mengaitkan Brahim dengan kriminal.

Divisi kontraterorisme Tunisia mulai menangani kasus Brahim pada 29 Oktober, pada hari yang sama pihak berwenang Prancis menangkapnya dengan tuduhan membunuh tiga orang yang menyebabkan serangan teror. Interogasi kontraterorisme difokuskan untuk mengetahui apakah Brahim menunjukkan tanda-tanda perubahan perilaku sebelum keberangkatannya ke Italia.

“Saya pergi ke polisi dan mereka (petugas polisi) mengulangi pertanyaan yang sama, dan saya pun terus mengatakan hal yang sama kepada mereka,” kata ayah Brahim, Mohamed Aouissaoui, kepada TRT World. “Saya tidak punya jawaban untuk diberikan karena tidak ada yang bisa dikatakan tentang putra saya. Tidak ada perubahan yang mencolok dalam perilakunya yang menunjukkan pemikiran ekstrem.”

Beberapa petugas polisi berulang kali mengunjungi keluarga dan teman-temannya, kadang-kadang memanggil mereka ke kantor untuk ditanyai lebih lanjut. Aparat penegak hukum Tunisia lantas sampai pada kesimpulan umum, yang lebih spekulatif daripada berdasarkan fakta. Mungkin Brahim telah diradikalisasi di Italia karena tidak ada bukti yang mengaitkannya dengan teror mana pun di Tunisia.

Seperti banyak pemuda seusianya di tersebut, Brahim merokok ganja, minum alkohol, dan berpesta dengan teman-temannya. Dia juga mulai berkencan dengan seorang gadis setahun yang lalu. Menurut saudara laki-laki Brahim, Nassim, yang juga berdagang di pasar lokal, Brahim ingin menghidupi keluarganya dan itulah mengapa dia putus sekolah dan mulai bekerja.

Setelah putus sekolah, Brahim tertarik untuk menghasilkan uang sejak masa remajanya dan menunjukkan minat yang besar untuk mempelajari keterampilan baru dengan harapan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang baik. Menurut keterangan salah satu temannya, dia mulai belajar cara memperbaiki sepeda motor di bengkel. Dia kemudian memutuskan untuk mencari nafkah dengan menjual bahan bakar selundupan.

Didatangkan dari Libya dan Aljazair, bahan bakar selundupan yang dijual di wilayah selatan itu adalah aktivitas bisnis yang meluas. Meskipun secara resmi dilarang oleh hukum, pihak berwenang Tunisia lebih memilih untuk menutup mata. Pasalnya, jika dihentikan, pihak berwenang yakin hal itu dapat memicu keresahan sosial. Brahim memperoleh penghasilan yang menguntungkan, setara dengan 20-25 AS per hari, di tengah ekonomi negara Afrika Utara yang sedang sakit.

Pada akhir 2019, Brahim tiba-tiba berhenti minum alkohol dan mengisap mariyuana. Keluarga dan teman-temannya tidak merasa khawatir karena dia memutuskan untuk mulai berdoa. Transformasi seperti itu biasa terjadi di kalangan Muslim di akhir remaja dan awal usia 20-an, yang tidak berarti orang tersebut telah mengambil jalan ekstremisme.

Perilaku sosial Brahim tetap sama, dia terus bergaul dengan teman-temannya dan pergi ke gym secara rutin. Menurut Ahmed Kid, salah satu teman dekatnya, dia tetap terus bergaul meski teman-temannya minum di depannya. Tempat nongkrong favorit Brahim dan teman-temannya sendiri adalah pantai terdekat yang disebut Zebrata.

Di masjid setempat, salah satu dari tiga di lingkungan Badrani tempat dia tinggal sebelum keberangkatannya, seorang pria yang menjadi muadzin mengatakan bahwa Brahim bukan orang biasa di masjid. “Saya hanya melihatnya beberapa kali di masjid. Jika saya melihat perilaku yang mencurigakan, tampak ekstremis atau mengkhawatirkan, saya akan melaporkannya ke pihak berwenang dan mencegahnya memasuki masjid,” katanya.

Pada tanggal 25 September, Brahim naik perahu dari Pantai Zebrata menuju ke Pulau Lampedusa di Italia, tanpa memberi tahu anggota keluarganya. Dia membayar perjalanan ke Italia dengan menjual bahan bakar selundupan, demikian menurut investigasi TRT World. Orang-orang yang mengetahui aktivitas penyelundupan mengatakan bahwa perjalanan tersebut akan menelan biaya minimum 1.270 dolar AS (3.500 dinar Tunisia).

“Pada malam dia berangkat ke Italia, saya menelepon sekitar pukul 11 ​​malam karena dia terlambat dan itu bukan sesuatu yang sering dia lakukan,” tutur ibunya, Gamra Aouissaoui. “Beberapa hari kemudian, dia menelepon kami untuk mengatakan bahwa dia tiba di Lampedusa dan dia harus menjalani masa isolasi virus corona selama dua minggu.”

Sekitar satu bulan kemudian, tepatnya pada 28 Oktober, dia naik kereta api dari Termini menuju Nice. Sesampai di sana, keluarganya mengatakan dia sempat melakukan panggilan video yang mengatakan dia telah tiba dan bahwa dia akan mencari tempat beristirahat. Keesokan harinya, Brahim memberi tahu keluarganya bahwa dia ingin mencari penutur bahasa Arab lainnya, dan mungkin bisa mendapatkan bantuan untuk mencari pekerjaan.

Gamra sendiri tidak percaya putranya, yang dia gambarkan sebagai anak yang sederhana dan penyayang, ingin menyakiti siapa pun. Dia ingin pihak berwenang Prancis merilis semua rekaman CCTV dan membuktikan putranya terlibat dalam serangan tersebut. Namun, pihak penyelidik Prancis belum menginterogasi Brahim, mengingat kondisi kesehatannya yang buruk lantaran positif mengidap virus corona.

Loading...