Mengandung Erythromycin Stearate, Harga Obat Erysanbe di Apotek Relatif Terjangkau

Orang minum obatIlustrasi : Seseorang sedang meminum obat antibiotik

Penggunaan antibiotik untuk mengatasi tertentu hingga kini memang masih menjadi kontroversi. Jenis antibiotik pun ada banyak macamnya. Erysanbe merupakan salah satu obat antibiotik yang mungkin banyak dikonsumsi oleh . Antibiotik produksi Sanbe ini mengandung komposisi utama Erythromycin stearate yang digunakan untuk mengatasi karena kuman yang peka terhadap eritromisin. Indikasi obat ini adalah untuk mengobati saluran pernapasan, kulit, dan jaringan lunak, pneumonia, GO, serta karena kuman yang peka terhadap eritromisin.

Erysanbe di apotik dalam berbagai bentuk sediaan, mulai dari Erysanbe tablet 500 mg yang dibanderol seharga Rp 3.535 per tablet, lalu Erysanbe 200 mg harganya Rp 2.142 per tablet, Erysanbe 250 cap harganya Rp 1.841 per kapsul, dan Erysanbe 200 mg/5 ml D Syrup kemasan 60 ml yang dengan Rp 30.237 per botol. Antibiotik satu ini termasuk golongan obat keras yang harus dibeli dengan di sejumlah .

Dosis atau aturan minum antibiotik seperti Erysanbe untuk setiap pasien mungkin bisa berbeda-beda. Hal ini pula yang kerap menjadi perdebatan, apakah sebaiknya antibiotik diminum sampai habis atau tidak. Sebelumnya banyak yang meyakini bahwa antibiotik harus diminum hingga habis untuk meminimalisir risiko resistensi antibiotik yang bisa berujung pada kematian.

Tetapi menurut 10 dokter spesialis penyakit menular dari Universitas Oxford dan Brighton and Sussex Medical School, anjuran untuk meneruskan konsumsi antibiotika hingga habis saat ini tidak didukung oleh bukti yang kuat. Sebaliknya, terdapat bukti bahwa menghentikan konsumsi antibiotik lebih cepat merupakan cara yang aman dan efektif untuk mengurangi penggunaan obat secara berlebihan.

“Menurut sejarahnya, waktu pemakaian antibiotik ditetapkan berdasarkan contoh-contoh terdahulu, rasa takut penyakit yang tidak sembuh, dan kurang memperhatikan dosis yang berlebihan. Sebetulnya kita harus minum obat-obatan sesedikit mungkin, dan ini melawan kepercayaan untuk mengkonsumsi antibiotika sampai habis yang saat ini tersebar luas,” kata Profesor Martin Llewelyn, penulis utama laporan tersebut, seperti dilansir Dailymail melalui Uzone.

Para menekankan, masih dibutuhkan lebih banyak percobaan untuk menerapkan anjuran atas waktu yang dibutuhkan untuk menggunakan antibiotik. “Durasi penggunaan antibiotik bergantung pada kondisi pasien sendiri, dan dalam banyak kasus, durasinya cenderung lebih pendek dari yang diberikan. Namun demikian, penghentian obat-obatan ketika pasien merasa baikan juga harus diperhatikan. Karena banyak kasus di mana berkurangnya gejala penyakit tidak selalu berarti penyakit sudah sempurna dikalahkan,” ujar Profesor Stokes-Lampard. Oleh sebab itu tetap disarankan mengikuti anjuran dari dokter masing-masing.

Loading...