Menanti Notulensi FOMC Meeting, Rupiah Menguat 1 Poin di Pembukaan

Jakarta – Kurs dibuka menguat tipis sebesar 0,01 persen atau 1 poin ke level Rp 13.330 per AS dalam perdagangan pagi hari ini, Rabu (5/4). Kemarin, Selasa (4/4) rupiah berakhir terdepresiasi 6 poin atau 0,05 persen ke posisi Rp 13.331 per AS usai diperdagangkan di rentang angka Rp 13.322 hingga Rp 13.341 per AS.

“Dolar mengalami tekanan terhadap yen dari segi perbedaan tingkat suku bunga, dengan imbal hasil telah turun ke level terendahnya dalam satu bulan,” kata Shin Kadota, senior strategist dari Barclays.

Menurut Ekonom PT Samuel Sekuritas , Rangga Cipta, pergerakan rupiah masih cukup . “Rupiah masih dengan kecenderungan menguat, tetapi penguatannya masih kalah dengan kurs di kawasan ,” jelas Rangga.

Lebih lanjut ia memprediksi bahwa penguatan rupiah akan berlanjut apabila dolar AS tertekan oleh hasil notulensi FOMC meeting yang tidak terlalu hawkish pada Kamis dini hari WIB. Dari dalam negeri sendiri yang mulai mengalami kenaikan, yang melambat, serta kuatnya aliran dana asing ke pasar uang dapat mendorong rupiah untuk menguat.

“Selain inflasi yang tak secepat yang diharapkan, reli harga komoditas sepekan terakhir juga mengangkat prospek pertumbuhan. Penguatan rupiah diperkirakan kembali dalam waktu dekat. Ditunggu data cadangan devisa Jumat dan diperkirakan naik,” ungkap Rangga.

Sementara itu minat para untuk aset berisiko tampaknya pekan ini mulai berkurang lantaran adanya berbagai peristiwa seperti kekhawatiran pasar menjelang pertemuan Amerika Serikat Donald Trump dengan China Xi Jinping.

Selain itu ledakan bom di St. Petersburg, Rusia juga cukup mengejutkan dunia. Ledakan bom yang terjadi di stasiun kereta api bawah di St. Petersburg yang menewaskan 11 orang dan membuat puluhan orang terluka ini menimbulkan kecemasan terkait aksi terorisme di sejumlah kota besar Rusia menjelang jadwal pemilihan presiden.

Loading...