Menanti Neraca Dagang Domestik, Rupiah Melemah di Awal Pekan

Rupiah harus berbalik melemah ketika membuka pasar awal pekan (16/7) ini jelang rilis neraca perdagangan domestik - www.covesia.com

harus berbalik melemah ketika membuka pasar awal pekan (16/7) ini jelang rilis neraca . Seperti dituturkan Index, Garuda membuka transaksi hari ini dengan melemah 15 poin atau 0,10% ke level Rp14.393 per . Sebelumnya, spot sempat ditutup menguat 12 poin atau 0,08% di posisi Rp14.378 per dolar pada akhir pekan (13/7) kemarin.

“Pergerakan rupiah saat ini masih bearish. Senin ini, data neraca perdagangan Indonesia akan dirilis,” ujar analis Global Kapital Investama, Nizar Hilmy, seperti dikutip dari Kontan. “Jika defisit neraca perdagangan masih melebih 1 miliar dolar AS, kemungkinan mata uang Garuda bisa melemah. Saat ini, memang belum ada sentimen positif yang bisa mendorong penguatan rupiah.”

Hampir senada, ekonom Samuel Asset Management, Lana Soelistianingsih, menuturkan bahwa meski ada ruang penguatan, namun rupiah masih berpotensi untuk bergerak melemah. Hal ini karena pada hari Senin, akan ada data neraca perdagangan Indonesia yang akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik (). “Sementara, dari luar, kekhawatiran mengenai perang tampaknya sudah sedikit mereda,” kata Lana.

Sebelumnya, sudah memproyeksikan bahwa neraca perdagangan Indonesia di bulan Juni 2018 akan mengalami surplus kurang lebih 900 juta dolar AS. Perkiraan tersebut berbasis tren impor musiman yang akan mereda. Dalam beberapa bulan terakhir, neraca perdagangan domestik memang mengalami defisit lantaran adanya impor-impor musiman, seperti alat perang strategis, alat infrastruktur, dan makanan jelang Lebaran.

Sementara itu, dari pasar global, pelemahan yang dialami indeks dolar AS pada akhir pekan lalu dinilai hanya bersifat teknikal. Mata uang Paman Sam pun diperkirakan mampu rebound terhadap sejumlah mata uang utama dunia, didukung pernyataan hawkish dari Federal Reserve dan consumer price index sepanjang Juni yang mencapai 2,9% year on year atau sesuai ekspektasi, sekaligus mendukung prospek kenaikan suku bunga yang lebih agresif di paruh kedua 2018.

Loading...