Menanti Neraca Dagang Agustus, Rupiah Negatif di Senin Pagi

Rupiah - bisnis.comRupiah - bisnis.com

harus berada di area merah pada transaksi Senin (17/9) pagi, ketika domestik menantikan data neraca bulan Agustus 2018. Menurut catatan pukul 08.46 WIB, mata uang Garuda melemah 45 poin atau 0,30% ke level Rp14.845 per dolar AS, sedangkan Wall Street Journal pukul 08.32 WIB melaporkan spot turun 35 poin atau 0,24% ke posisi Rp14.850 per dolar AS.

“Pada awal pekan ini, sejumlah sentimen berpotensi menjegal penguatan kurs mata uang domestik,” tutur kepala ekonom Bahana Sekuritas, Satria Sambijantoro, dilansir Kontan. “Pelaku pasar saat ini masih menantikan negosiasi antara AS dan . Masih ada potensi Presiden Donald Trump menerapkan tarif terhadap asal China senilai 267 miliar dolar AS.”

Meski demikian, jika mengalami tekanan, pelemahan yang dialami rupiah diprediksi masih akan terbatas. Hal tersebut tidak lepas dari pergerakan indeks dolar AS yang tidak menguat signifikan, lantaran tingkat inflasi Negeri Paman Sam tidak sesuai harapan. “Sentimen dari dalam negeri, pasar menunggu data yang akan dirilis hari ini,” sambung Satria.

Hari ini, Badan Pusat Statistik (BPS) memang dijadwalkan akan mengumumkan laporan neraca perdagangan Indonesia di bulan Agustus 2018. Meski musim Ramadan dan Idul Fitri telah berlalu, tren defisit neraca perdagangan dalam negeri diperkirakan masih akan berlanjut pada bulan kedelapan, walau besarannya diprediksi lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya.

“Kinerja defisit neraca perdagangan bulan lalu yang akan dirilis BPS akan lebih baik dari bulan sebelumnya yang sebesar 2,03 miliar dolar AS,” kata Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo, dikutip Tribun Jambi. “Kami lihat sudah ada gambaran positif, paling tidak kalau ada defisit, maka defisitnya lebih kecil dari 2 miliar dolar AS.”

Sementara itu, direktur Garuda Berjangka, Ibrahim, menimpali bahwa pemerintah harus melakukan intervensi lebih lanjut untuk menstabilkan nilai tukar rupiah agar tetap sesuai dengan fundamental ekonomi. Selain itu, menurutnya, pemerintah harus tetap mengawasi pergerakan para spekulan yang bermain pada rupiah secara ketat.

Loading...