Menanti Data Inflasi Mei, Rupiah Menguat di Awal Perdagangan

Jakarta mengawali pagi hari ini, Jumat (2/6) dengan penguatan 11 poin atau 0,08 persen ke level Rp 13.296 per AS. Akan tetapi mata uang Garuda kemudian berbalik melemah 9 poin atau 0,07 persen ke Rp 13.316 per AS pada pukul 08.01 WIB. Sebelumnya, Rabu (31/5) berakhir stagnan di posisi Rp 13.323 per dolar AS usai bergerak di rentang angka Rp 13.300 hingga Rp 13.327 per dolar AS.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama berakhir 0,33 persen menjadi 97,245 di akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB berkat dukungan berbagai yang positif.

Data pekerjaan swasta pada bulan Mei meningkat ke angka 253.000, lebih tinggi dari ekspektasi sebesar 185.000. ADP kerap dijadikan acuan untuk data gaji non pertanian Amerika Serikat yang akan dilaporkan pada Jumat (2/6) waktu setempat. Sedangkan klaim pendahuluan pengangguran AS naik 13.000 menjadi 248.000 secara musiman.

Meski demikian, data AS atau pending home sales bulan April 2017 menunjukkan angka minus 1,3 persen atau lebih rendah dari bulan sebelumnya, minus 0,9 persen. Hal inilah yang turut menyumbang peningkatan pada rupiah. “Tetapi pelemahan dolar AS tidak signifikan karena masih menanti data Non Farm Payroll (NFP) bulan Mei,” jelas Putu Agus Pransuamitra, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures.

Dari dalam negeri, rupiah masih minim sentimen akibat hari libur nasional pada 1 Juni 2017 kemarin bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila. Saat ini rupiah masih menantikan rilis data bulan Mei yang akan dilaporkan pada akhir pekan ini. Apabila klaim pengangguran Amerika Serikat ternyata mengalami penurunan, maka Putu memprediksi jika rupiah berpotensi untuk melemah pada perdagangan hari ini, Jumat (2/6).

Loading...