Menanti BI Rate dan Notulensi FOMC, Rupiah Ditutup Terkoreksi 112 Poin

Di tengah penantian keputusan dan notulensi FOMC meeting, kembali ditutup . Menurut data Index pukul 15.59 WIB, (17/2) Garuda terkoreksi 112 poin atau 0,84 persen ke level Rp13.507 per dolar AS.

Pada pagi, rupiah dibuka 60 poin atau 0,45 persen ke level Rp13.455 per dolar AS. Kemudian, mata uang Garuda bergerak melemah 65 poin atau 0,49 persen ke Rp13.460 per dolar AS. Secara keseluruhan, sepanjang perdagangan hari ini rupiah berada di kisaran Rp13.536 per dolar AS (terlemah) hingga Rp13.443 per dolar AS (terkuat).

Sementara menurut rilis pukul 16.03 WIB, mata uang Garuda bergerak ke Rp13.490 per dolar AS. Rupiah menguat tipis 5 poin atau 0,40 persen dibanding sebelumnya di Rp13.495 per dolar AS.

Dikatakan analis SeoGee Futures, Nizar Hilmi, koreksi rupiah yang terjadi masih dalam tahap wajar. Menurutnya, pelemahan terjadi lebih karena koreksi setelah penguatan tajam sebelumnya. “Ini masih kecil dibanding penguatan yang terjadi sepekan terakhir,” ungkap Nizar.

Sementara menurut Head of Fixed Income Division PT IndomitraSecurities, Maximilianus Nico Demus L., rupiah bergerak melemah karena tekanan dolar AS. “Penguatan indeks dolar AS akibat membaiknya data empire manufacturing yang memberikan tekanan kepada rupiah. Hari ini para pelaku dan investor diperkirakan akan menunggu keputusan BI Rate serta menanti notulensi FOMC meeting,” jelasnya.

Selain BI rate dan notulensi FOMC meeting, pelaku pasar juga menunggu data inflasi Cina Januari 2016 dan data inflasi AS Januari 2016. Diperkirakan, data inflasi Cina Januari 2016 yang diumumkan Kamis (18/2) pagi naik ke 1,9 persen YoY. Sementara, data inflasi AS Januari 2016 yang diumumkan Jumat (19/2) malam diprediksi naik ke 1,3 persen YoY.

Loading...