Menangi Duel Lawan Dolar, Rupiah Ditutup Menguat Tipis

Rupiah - en.tempo.coRupiah - en.tempo.co

Setelah melakukan ‘kejar-kejaran’ dengan AS, akhirnya menyelesaikan Rabu (30/5) ini di area hijau, di tengah kekhawatiran pelaku pasar akan krisis mendalam di Italia. Menurut pukul 15.55 WIB, Garuda mengakhiri pasar dengan penguatan tipis hanya 2 poin atau 0,01% ke level Rp13.993 per AS.

Sebelumnya, rupiah ditutup melonjak 130 poin atau 0,92% di posisi Rp13.995 per dolar AS pada akhir Senin (28/5) kemarin. Namun, mata uang NKRI berbalik melemah 30 poin atau 0,21% ke level Rp14.025 per dolar AS ketika membuka pasar pagi tadi. Setelah bergerak cukup , spot akhirnya berakhir di teritori positif.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.032 per dolar AS, menguat 33 poin atau 0,23% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.065 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia bergerak mixed versus, , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,08% dialami rupee India dan yen Jepang, sedangkan pelemahan terdalam sebesar 0,39% menghampiri won Korea Selatan.

Dari pasar global, indeks dolar AS mampu bergerak lebih tinggi pada hari Rabu, seiring dengan pelemahan yang dialami mata uang euro di tengah krisis politik di Italia. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,069 poin atau 0,07% ke level 94,889 pada pukul 11.04 WIB, sedangkan euro terpeleset 0,03% ke posisi 1,1537 per dolar AS pada pukul 10.42 WIB.

Seperti diberitakan oleh Reuters, krisis politik di Italia yang makin mendalam meningkatkan kemungkinan diadakannya pemilihan dini, sekitar Juli, yang dikhawatirkan oleh para pelaku pasar dapat menyebabkan pemerintahan yang euro-skeptik di Roma. Salah satu sumber menyebutkan bahwa ada kemungkinan Presiden Sergio Mattarella dapat membubarkan parlemen dalam beberapa hari mendatang.

Imbal hasil obligasi pemerintah Italia dengan tenor 10 tahun melonjak menjadi 3,19% saat obligasi menurun. Padahal, sekitar dua pekan lalu, imbal hasil Negeri Pisa hanya mencapai di bawah 2%. Adapun, imbal hasil utang dengan tenor dua tahun melonjak menjadi 2,71% dalam semalam, dari hanya mencapai 0,84% sehari sebelumnya.

“Cara imbal hasil utang jangka pendek Italia yang melonjak membuat Anda berpikir adanya risiko default pada radar di pasar. Ini menceritakan bagaimana situasi yang buruk,” ujar ahli senior di SMBC Nikko Securities, Makoto Noji. “Apa yang pasar pertimbangkan bukanlah default, tetapi pemilihan awal yang mengarah ke kemenangan euro-sceptic dan keluar dari Uni Eropa.”

Loading...