Memiliki Prospek Bisnis Menjanjikan, Banyak Petani Indonesia Tertarik Budidaya Porang

Umbi Porang - porangjawa.blogspot.comUmbi Porang - porangjawa.blogspot.com

Walaupun memiliki bentuk yang tidak beraturan dan sering kali membuat gatal jika terkena kulit, nyatanya umbi porang sejak beberapa tahun lalu banyak dibudidayakan oleh petani di Indonesia. Pasalnya porang disebut-sebut memiliki prospek yang sangat menjanjikan. porang iris kering yang terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun telah mendorong para petani untuk beralih menanam porang.

“Dulu pertama dibudidayakan hanya empat hektare saja sekitar tahun 1986. Kini (tahun 2017) yang dikembangkan sudah mencapai 650 hektare,” kata Hartoyo, salah seorang perintis porang di Klangon, Madiun, seperti dilansir Kompas.

Porang biasanya banyak diekspor ke negara seperti Jepang dan . Hartoyo mengungkapkan, setiap tahunnya porang iris kering asal Klangon yang diekspor ke Jepang dan jumlahnya mencapai 750 ton. Jumlah tersebut dapat bertambah jika petani mempunyai modal yang besar. “Sekarang bukan hanya Jepang yang mencari porang. asal dan Korea juga berburu porang di Madiun,” ucap Hartoyo.

Sementara itu, Kepala Dusun Klangon, Parmo yang telah 10 tahun menanam porang mengaku berhasil memperoleh keuntungan bersih antara Rp 8-9 juta dalam sekali . Setidaknya butuh waktu 3 tahun untuk memanen perdana bila baru mulai budidaya porang. Adapun harga porang basah dapat mencapai Rp 4.000 per kilogram, sedangkan porang iris kering harganya lebih mahal lagi, mencapai Rp 35 ribu per 1 kg. Petani pun dapat menjual porang yang per satu kilo-nya dihargai Rp 50 ribuan.

Senada, pembudidaya porang lainnya bernama Dhani Sudrajat mengaku bahwa prospek bisnis porang saat ini cukup bagus. “Sebenarnya prospeknya bagus, gambarannya jika kita menanam seluas 1 Ha saja, hasil penjualan bisa mencukupi untuk hidup selama 1 tahun ke depan,” papar Dhani.

Maklum saja, porang adalah tanaman umbi-umbian yang dapat ditanam di bawah naungan. Selain itu, pemeliharaannya pun tak perlu dilakukan secara intensif. Meski menguntungkan, Dhani justru berpesan agar setiap orang tidak hanya tergiur pada keuntungan saja.

“Kita harus ketahui risiko agar bisa antisipasi. Karena kita bermain dalam bisnis hasil bumi yang tak bisa diprediksi. Jika overlap, pun akan menyerap sedikit sedangkan barang melimpah. Saya berbicara begini karena saya pun sudah merasakan jatuh bangun berkali-kali. Jadi ada baiknya kita jangan memperhitungkan untung, karena kalau kita mengalami masa sulit, otomatis kita akan stuck dan sulit bisa bangkit lagi,” tutupnya.

Loading...