Memberlakukan Ikatan Dinas Bagi Para Mahasiswa, Kuliah Di STIS Tidak Dipungut Biaya

ikatan, dinas, biaya, kuliah, gratis, orang tua, STIS, lokasi, di, jakarta, buku, penunjang, dosen, pendaftaran, online, kartu, mencetak, tinggi, finansial, mahasiswa, pekerjaan, lulus, kepastian, lulusan, sekolahGedung perkuliahan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik Jakarta (Instagram: @reni_apriliya)

Kuliah tanpa bukan merupakan suatu hal yang tidak mungkin. Kini, sudah ada beberapa tempat yang menyediakan sarana dan kegiatan kuliah tanpa dipungut . Hanya saja, Anda harus bersedia untuk menjalani ikatan dinas.

Beberapa tempat kuliah yang dimaksud antara lain Akademi Ilmu Pemasyarakatan , Akademi Kimia Analis Jawa Barat, Akademi Pimpinan Perusahaan , Akademi Kepolisian RI, Akademi Militer RI, termasuk juga Tinggi Ilmu Statistik (STIS). Selain itu, masih ada beberapa akademi dan tinggi lainnya.

Sebagai contohnya di STIS yang berlokasi di Jakarta. Anda bisa melakukan pendaftaran sesuai prosedur yang telah ditentukan, yaitu mulai dari mendaftar secara online, melengkapi data, membayar biaya seleksi sebesar Rp 300.000, hingga akhirnya calon baru bisa mencetak Kartu Tanda Peserta Ujian Masuk (KTUM). Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap, Anda bisa mengunjungi situs resminya di stis.ac.id.

Untuk biaya kuliah di STIS, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa sekolah tinggi ini termasuk dalam sekolah yang membebaskan biaya kuliah alias gratis. Hanya saja, bagi setiap mahasiswa yang diterima, akan menjalani ikatan dinas. Selain itu, mungkin setiap mahasiswa akan membayar biaya untuk buku penunjang. Tetapi, buku penunjang tersebut bersifat opsional. Mahasiswa juga bisa memilih buku di pasaran, sesuai dengan keinginan atau anjuran dosen.

Ikatan dinas dinilai menjadi suatu solusi di tengah tingginya biaya kuliah. Orang tua mahasiswa ikatan dinas tidak perlu merasa terbebani dengan keharusan membayar biaya kuliah setiap , bahkan anak nantinya akan mendapatkan uang setiap bulan dan kepastian pekerjaan setelah lulus.

Dengan adanya fasilitas tersebut, menjadikan salah satu orang tua, Heru, mendukung keputusan anaknya, Muhammad Luqman, untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS). “Antusiasme Luqman untuk meringankan beban orangtua lebih tinggi ketimbang mengambil kuliah di satu jurusan tertentu. Akhirnya, setelah pembicaraan antara orangtua dan anak, Luqman pun mantap kuliah di STIS,” papar Heri.

“Sebenarnya saya melihat, anak saya bisa lebih berkembang di lingkup ketimbang di sekolah dengan spesifikasi ilmu tertentu. Mungkin ini karena saya juga tidak paham betul lingkup ilmu statistik seperti apa. Tapi yang jelas, ‘pesan sponsor’ saya, kuliah di STIS memang meringankan beban biaya kuliah,” tuturnya.

Pria yang juga merupakan lulusan sekolah ikatan dinas itu menyayangkan jika ada siswa yang mampu secara intelektual tetapi tidak mampu secara finansial harus putus sekolah. Apalagi jika hal itu terjadi karena orangtuanya langsung menyerah ketika mengetahui nominal biaya kuliah yang harus dibayarkan.

“Sebagian orang memang belum beruntung dalam perekonomian. Tetapi, saya rasa kalau orang tua enggak pesimistis, maka anaknya pun bisa maju. Selain itu, jika si anak memiliki prestasi dan nilai yang baik, banyak kok donor yang mau memberikan ,” imbuhnya.

Loading...