Melemah di Awal Dagang, Rupiah Berharap Dorongan Naiknya Harga Minyak

Meski dibuka di zona merah, namun diprediksi masih berpeluang melanjutkan tren penguatan pada akhir pekan ini (12/8). Hal ini seiring , terutama minyak mentah, yang mulai pulih serta respon pasar yang masih pesimistis The Fed menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Menurut Bloomberg Index, rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan dibuka melemah 9 poin atau 0,07% di level Rp13.112 per dolar AS. Kemudian, pada pukul 08.43 WIB, spot kembali terdepresiasi 7 poin atau 0,15% ke posisi Rp13.110 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau bergerak menguat 0,06% ke 95,91 pada pembukaan pagi ini.

“Rupiah berpeluang melanjutkan tren penguatan pada hari ini mengingat harga komoditas yang mulai pulih,” kata Ekonom Samuel Sekuritas , Rangga Cipta. “Sebelumnya, mata uang Garuda berhasil menguat pada sore kemarin (11/8) meski mayoritas kurs Asia melemah terhadap dolar AS.”

Harga minyak memang naik tajam dipicu kombinasi komentar IEA (International Energy Agency) yang optimistis permintaan akan melebihi pasokan minyak mentah dan komentar Arab Saudi yang menyerukan kerjasama antar-anggota dan non-anggota dalam pertemuan mendatang. Harga minyak naik 4,3% ke level 43,49 dolar AS per barel, sedangkan minyak Brent melonjak 4,5% ke 46,04 dolar AS per barel.

Sementara itu, Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, , menambahkan bahwa data produktivitas AS yang mengukur seberapa banyak barang dan jasa yang dihasilkan pekerja diproyeksikan menurun. Hal ini dapat menambah sentimen negatif bagi pergerakan the greenback.

“Selain itu, progres atas program amnesty pajak masih menjadi faktor pendukung untuk menjaga stabilitas ,” kata Reza. “Rupiah hari ini kemungkinan bergerak di level support Rp13.142 per dolar AS dan resisten Rp13.090 per dolar AS.”

Loading...