Melemah 8 Poin di Awal Dagang, Rupiah Berharap Intervensi BI

bi-bankindonesiaBank Indonesia

Tren negatif diprediksi masih akan berlangsung pada perdagangan awal pekan (21/11) ini seiring terus melajunya indeks AS. Karena itu, kehadiran (intervensi) di (valas) diharapkan mampu meminimalkan tekanan terhadap mata uang Garuda agar tidak terdepresiasi terlalu dalam.

Seperti dilaporkan Index, rupiah langsung melemah 8 poin atau 0,06% ke Rp13.436 per dolar AS di awal dagang. Namun, pada pukul 08.35 WIB, spot berbalik menguat tipis 1 poin atau 0,01% ke level Rp13.427 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat 0,15% ke posisi 101,36 usai dibuka naik 0,14% ke 101,35.

“Indeks dolar AS terus menguat, tidak hanya akibat harapan kenaikan suku bunga di akhir tahun, tetapi juga akibat meningkatnya harapan atau laju kenaikannya pada tahun 2017 mendatang,” papar Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Harapan kenaikan dolar AS ini dipicu oleh perubahan peta politik AS yang diperkirakan lebih ekspansif terhadap kebijakan fiskal.”

Seperi dipaparkan Bloomberg, probabilitas kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve pada mendatang mencapai 98%. Sebelumnya, Gubernur The Fed, Janet Yellen, mengatakan bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga, dengan spekulasi bahwa presiden terpilih akan meningkatkan stimulus fiskal yang memicu spekulasi atas kebijakan pengetatan di 2017.

Ditambahkan Rangga, tekanan pelemahan rupiah di awal minggu ini berpeluang bertahan karena mata uang domestik masih terbawa sentimen penguatan dolar AS serta pelemahan harga komoditas di pasar global, bersamaan dengan pelemahan kurs mata uang Asia lainnya. “Namun, kehadiran BI di pasar valas diperkirakan bisa mengurangi peluang depresiasi terlalu tajam,” sambungnya.

“Di sisi lain, pasar juga memonitor laju inflasi yang berpeluang naik,” imbuh Rangga. “Tren kenaikan inflasi diperkirakan berlanjut berdasarkan survei BI di minggu ketiga sehingga bisa mempertahankan sentimen negatif terhadap rupiah dan juga SUN.”

Loading...