Medsos Di Asia Tenggara Jadi Media Utama untuk Kritik dan Hasutan

Revolusi melalui sosial tampaknya masih terlalu sulit untuk diterapkan pada sistem pemerintahan di mayoritas negara-negara Tenggara. Di kawasan ini, sosial cenderung digunakan untuk menyampaikan kebencian serta hasutan dan informasi-informasi yang tidak benar sehingga membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk membatasi penggunaan sosial.

Di Myanmar, Facebook telah digunakan sebagai kendaraan untuk pidato kebencian dan intimidasi, yang terutama ditujukan untuk minoritas Muslim. Rohingya diserang oleh kelompok Buddhis ultranasionalis pada tahun 2012 dan 2013 usai postingan retorika Islamophobia dan penyebaran desas-desus liar. Sosial media memainkan peran penting dalam kekerasan sektarian ini.

Dikutip Nikkei (15/09), seorang akademisi yang mengkhususkan diri dalam analisis Myanmar namun menolak untuk diidentifikasi, percaya dampak media sosial terhadap masyarakat Myanmar adalah menghasilkan keegoisan yang sejalan dengan pertumbuhan tingkat penggunaan internet. “Ini bisa memicu munculnya kekuatan gelap yang akan sangat sulit untuk dimasukkan kembali dalam botol,” katanya.

Sementara di , pemerintah negara itu telah menahan Phout Mitane, seorang berkewarganegaraan Laos berusia 26 tahun, selama seminggu setelah mem-posting gambar kakaknya yang diperas oleh polisi usai melanggar . Pihak berwenang sendiri mengatakan bahwa dia hanya didenda untuk kertas yang hilang.

Pada akhir , Pemerintah Laos telah mengeluarkan dekrit tuntutan pidana bagi orang yang memposting “informasi yang tidak benar” untuk tujuan hasutan dan mengharuskan pengguna internet untuk mengidentifikasi diri mereka. Pemerintah di Thailand juga berusaha mengatur penggunaan internet dengan Computer Crimes Act of 2007, yang membawa hukuman pidana, seperti halnya pencemaran nama baik.

Pada tahun 2013, Media Development Authority (MDA) menerapkan kerangka kerja lisensi baru untuk situs berita online. Konten yang dilarang meliputi apa saja yang bertentangan dengan kepentingan umum, keamanan nasional, atau kerukunan nasional. Namun, kritikus media sosial mengecam hal itu sebagai serangan terhadap kebebasan berbicara.

Adapun di Vietnam, meski penggunaan media sosial dibatasi pemerintah, namun Facebook telah memainkan peran utama dalam mempromosikan kesadaran masyarakat di negara komunis tersebut. Facebook berperan dalam menciptakan kesadaran akan bencana lingkungan, gangguan, memaksa respon pemerintah, penentuan pelakunya, dan reaksi publik.

Protes yang diselenggarakan di Facebook membuat pejabat yang terlibat dalam proyek lebih disiplin. Proyek-proyek lain telah ditangguhkan untuk menenangkan publik, sementara proposal diterima untuk pemeriksaan lebih lanjut. Facebook fan pages telah menarik ribuan hits dan “suka” dari berbagai macam orang, mendorong media mainstream untuk bersikap kritis terhadap apa yang biasanya dianggap sensitif.

Loading...