Studi: Artikel di Media AS Penuh Bias Anti-Palestina

Ilustrasi: konflik Israel-Palestina (sumber: cfr.org)Ilustrasi: konflik Israel-Palestina (sumber: cfr.org)

NEW YORK – Pandangan berbagai media Barat mengenai agresi Israel terhadap ternyata mengungkapkan bias atau kesetaraan palsu dalam kerangka liputan mereka. Sebuah studi Massachusetts Institute of Technology (MIT) terhadap lebih dari 33 ribu artikel New York Times baru-baru ini menunjukkan bagaimana bias orientalis terhadap orang-orang terwujud dalam liputan berita di AS.

Dilansir dari TRT World, New York Times memiliki sejarah panjang liputan anti-Palestina. Selama perang 2014 antara Israel dan Palestina di Gaza, mereka menerbitkan sebuah artikel berjudul ‘Israel Says That Hamas Uses Civilian Shields, Reviving Debate’, yang tampaknya merujuk pada ratusan warga sipil Palestina yang terbunuh oleh serangan Israel, tanpa mempertanyakan siapa yang bertanggung jawab dalam kematian mereka.

Judul lain yang juga tayang pada tahun 2014 setelah serangan udara Israel menewaskan beberapa penggemar sepak bola Palestina yang berbunyi ‘Missile at Beachside Gaza Café Finds Patrons Poised for World Cup’ hanya untuk diubah kemudian setelah menerima pukulan keras di . Ada bukti yang menunjukkan bahwa tajuk berita memiliki dampak yang terukur dalam memengaruhi masyarakat umum, dan dalam kasus Israel-Palestina, tajuk berita yang menyesatkan selama perang tahun 2014 di Gaza merajalela di seluruh lanskap media AS.

Kemudian, pada Mei 2021, kesimpulan serupa dicapai oleh studi berjudul ‘The New York Times Distorts The Palestinian Struggle’ oleh Holly M. Jackson dari MIT. Melacak perubahan dalam bias liputan berita, Jackson menunjukkan bagaimana bias anti-Palestina bertahan dalam liputan New York Times dengan menganalisis artikelnya selama Intifada Palestina Pertama dan Kedua, dua periode ketika kekerasan Israel jauh melebihi yang dilakukan oleh orang-orang Palestina.

Menganalisis lebih dari 33.000 artikel, Jackson berfokus pada bias dalam bahasa pelaporan New York Times melalui dua fitur linguistik. Pertama adalah untuk mengidentifikasi apakah tindakan yang dilakukan oleh kelompok Israel dan Palestina digambarkan dengan suara aktif dan pasif. Kedua, mengklasifikasikan objektivitas dan nada bahasa yang digunakan.

Analisis isi yang dilakukan pada 16.000 artikel selama Intifada Pertama (Desember 1987 hingga September 1993) menunjukkan, sekitar 40 persen merujuk kelompok atau individu Palestina, sedangkan hampir 93 persen merujuk pada orang Israel. Sekitar 12 persen dari semua referensi ke Palestina menggunakan bahasa kekerasan, dibandingkan dengan 5,9 persen untuk Israel. Sementara itu, kalimat pasif yang digunakan untuk orang Palestina sebanyak 15,7 persen, sedangkan kalimat pasif hanya digunakan 6,4 persen untuk menggambarkan orang Israel.

Ilustrasi: surat kabar Amerika Serikat

Ilustrasi: surat kabar

“Penggunaan kalimat pasif menghilangkan penekanan atau menyembunyikan orang-orang yang melakukan tindakan negatif seperti itu terhadap orang-orang Palestina. Ini memiliki efek retoris meminimalkan tanggung jawab agresor Israel dalam menyebabkan penderitaan Palestina,” tulis Jackson. “Selama periode ini, wartawan Times membingkai artikel mereka dengan mengangkat perspektif Israel di samping sentimen anti-Palestina yang terang-terangan.”

Sementara itu, dari lebih dari 17.000 artikel selama Intifadah Kedua yang lebih mematikan (September 2000 sampai Februari 2005), Jackson menemukan bahwa hampir 50 persen merujuk pada orang Palestina, sedangkan sekitar 93 persen merujuk pada orang Israel. Hampir 16 persen dari semua referensi ke Palestina menggunakan bahasa kekerasan, sedangkan hanya 11,7 persen untuk orang Israel.

Meskipun ada sisa dari daftar penulis Times yang meliput Intifada Pertama, suara-suara baru muncul, seperti kolumnis Opinion pro-Israel David Brooks, tetapi juga sedikit condong ke arah keseimbangan dengan Palestina, Marwan Bishara, yang terdaftar sebagai penulis tamu reguler. Contoh dari tajuk utama yang bias termasuk opini tahun 2005 dari Brooks berjudul ‘What Palestinians?’ yang tidak lebih dari kata-kata rasis, juga artikel Steven Erlanger berjudul ‘Teenage Suicide Bomber Kills 3 in a Market in Tel Aviv’ yang muncul di halaman berita internasional sebagai yang tampaknya objektif.

Secara keseluruhan, penelitian Jackson mengungkapkan apa yang dia katakan sebagai ‘sentimen anti-Palestina yang tidak proporsional’, selain banyak teknik Orientalis, seperti dekontekstualisasi dan pelaporan selektif, yang bahkan metode analisis konten mutakhir pun belum dapat mengidentifikasi. Implikasi dari bias yang melekat ini signifikan mengingat peran penting AS dalam mensponsori Israel melalui bantuan keuangan dan militer, dan rantai pengaruh antara liputan berita, opini publik, dan kebijakan luar negeri.

Studi kasus Jackson menemukan relevansi baru mengingat kekerasan yang telah terjadi bulan ini, dengan alasan bahwa berita utama New York Times baru-baru ini tentang penggerebekan dan serangan udara yang dilakukan oleh Israel ‘ditandai oleh ambiguitas dan bias’. “Pada 2021, New York Times melanjutkan warisan penghapusan Palestina,” demikian kesimpulan Jackson.

Sebuah studi hampir serupa pernah dilakukan firma analisis Kanada, 416Labs, pada tahun 2018 berjudul ‘50 Years of Occupation’. Studi ini menganalisis hampir 100 ribu berita utama tentang Israel-Palestina di pers AS selama lima dekade terakhir dari lima publikasi utama, New York Times, Washington Post, Wall Street Journal, Los Angeles Times, dan Chicago Tribune, menggunakan Natural Language Processing (NLP). Secara keseluruhan, analisis 416Labs menyimpulkan ada kecenderungan yang jelas ke arah sudut pandang Israel dengan mengorbankan Palestina.

Ilustrasi: media sosial

Ilustrasi: media sosial

Bagaimana dengan Media Sosial?

Terlepas dari analisis tersebut, ada perubahan berarti dalam liputan media AS dalam beberapa tahun terakhir, terutama didorong oleh media sosial. Ada juga bukti yang semakin meningkat bahwa Israel menjadi masalah yang memecah belah dalam AS, dengan beberapa politisi progresif memberikan tekanan terhadap kebijakan Israel dari dalam Partai Demokrat.

“Namun, seperti yang telah kita lihat selama serangan terbaru, platform media sosial terus mendukung narasi Israel berkat koneksi teknologi dan politik di tingkat tertinggi,” ujar Nadim Nashif, direktur eksekutif 7amleh, sebuah organisasi nirlaba hak digital Palestina. “Ada kerja sama antara politisi Israel dan perusahaan media sosial, terutama dengan unit siber Israel.”

Dikatakan Nashif, unit siber tersebut mengajukan ribuan permintaan penghapusan konten yang didominasi Palestina dan pro-Palestina. Dalam dua minggu terakhir saja, 7amleh mendokumentasikan penghapusan hampir 500 postingan Facebook dan Instagram yang mengutuk pengusiran warga Palestina baru-baru ini. “Ini telah mengakumulasi bias yang jelas terhadap konten Palestina, yang pada gilirannya menekan narasi Palestina di media sosial,” tutup Nashif.

Loading...