Mata Uang Melemah, Kenaikan Harga Hantui Indonesia dan Negara Asia

Kenaikan Harga - www.forexnewsnow.comKenaikan Harga - www.forexnewsnow.com

JAKARTA – Penurunan nilai tukar mata uang terhadap dolar memiliki dampak negatif yang membuat -harga dan kebutuhan pokok menjadi lebih mahal. Hal tersebut berimbas, tidak hanya kepada perusahaan yang harus mengalami penurunan , tetapi juga kepada masyarakat umum.

Dilansir Nikkei, obat terbesar di Indonesia, Kalbe Farma, yang mengimpor 90 persen bahan mentah, telah dipaksa untuk memotong pendapatan dan target pertumbuhan pendapatan bersih pada tahun ini karena depresiasi . Rasio laba kotor menurun menjadi 48,1 persen pada semester pertama, dari 48,9 persen pada periode yang sama tahun lalu, untuk alasan yang sama.

“Tantangan terbesar saat ini adalah melemahnya rupiah, yang telah memaksa kami melakukan perhitungan ulang,” kata Presiden Kalbe Farma, Vidjongtius, pada konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/9). “Kami akan menaikkan harga beberapa produk. Kami sudah mulai menaikkan harga pada bulan Juli. Kami akan terus memantau pergerakan rupiah.”

Seiring dengan kenaikan suku bunga yang agresif, pemerintah Indonesia sebenarnya telah mengambil langkah-langkah yang tidak konvensional untuk meningkatkan dan mendukung rupiah. Salah satunya adalah perubahan kebijakan untuk meningkatkan ekspor batubara. Pemerintah menaikkan target produksi nasional untuk tahun ini menjadi 585 juta ton pada bulan Agustus. Namun, upaya-upaya tersebut masih gagal menopang rupiah, yang mencapai titik terendah terhadap dolar AS sejak Juli 1998.

Di India, tempat rupee mencapai level 70 dolar AS untuk pertama kalinya pada bulan Agustus, maskapai penerbangan terguncang akibat pukulan dari penurunan mata uang dan harga bahan bakar yang lebih tinggi. IndiGo, maskapai swasta terbesar di negara itu, mengalami penurunan laba bersih sebesar 97 persen (tahun ke tahun), menjadi 278 juta rupee untuk tiga bulan yang berakhir pada bulan Juni.

Di tempat lain di Asia yang sedang berkembang, orang-orang juga belum begitu beruntung. Di Filipina, pelemahan yang dialami mata uang lokal, peso, telah membuat harga barang meroket. Sejak awal tahun, peso sudah terdepresiasi lebih dari 7 persen terhadap dolar AS, dengan mata uang mencapai level 53,7 per dolar AS, titik terendah dalam lebih dari 12 tahun.

Meski demikian, ‘kesengsaraan’ yang dirasakan warga Filipina bisa dikatakan belum apa-apa dibandingkan mereka yang tinggal di Turki. Penurunan lira dan putaran inflasi semakin tidak terkendali. Inflasi di Turki, yang telah naik sekitar 10 persen hingga April, melonjak lebih dari 15,85 persen pada bulan Juli karena pelemahan lira. Dengan depresiasi lira yang terus berlanjut, inflasi bulan Agustus diperkirakan akan mencapai 20 persen.

Akibatnya, tomat, bahan penting dalam masakan Turki, sekarang dihargai 5 lira per kilogram di salah satu supermarket di Istanbul pada pertengahan Agustus. Harga grosir mencerminkan biaya produksi petani yang meningkat karena pupuk yang diimpor dan naiknya biaya bahan bakar. “Ini gila, ini benar-benar gila,” kata seorang pria berusia 40-an yang sedang berbelanja dengan keluarganya.

Loading...