Kejahatan Rasial Meningkat, Masjid di Prancis Dibakar Orang Tak Dikenal

Masjid di Prancis Dibakar - www.theguardian.comMasjid di Prancis Dibakar - www.theguardian.com

PARIS – Sebuah Turki yang berada di Albertville, tenggara Prancis, menjadi sasaran pembakaran orang tidak dikenal pada Selasa (4/5) waktu setempat. Kabar tersebut disampaikan pertama kali oleh Konfederasi Milli Gorus (CIMG) di platform mereka. Namun, setempat hingga detik ini masih belum menangkap pelaku vandalisme tersebut.

“Umat yang terhormat, masjid kami dibakar tadi malam. Alhamdulillah tidak ada yang terluka,” demikian pernyataan otoritas masjid, seperti dilansir dari TRT World. “Kami melihat ada orang yang menuangkan bensin dan membakar pintu masjid kami. Kami telah menghubungi penegak dan penyelidikan akan dilakukan.”

Serangan terbaru tersebut mengikuti serangkaian tindakan vandalisme di masjid lain di seluruh Prancis. Minggu lalu, untuk kedua kalinya dalam satu bulan, dinding masjid Avicenna dan pusat kebudayaan Islam di Rennes dirusak dengan slogan-slogan seperti ‘Wake up France, ‘We warned you’, immigrations kills’ dan ‘No Islamization’.

Jamaah Muslim di Kota Bordeaux baru-baru ini juga mengalami insiden kejahatan rasial karena lokasi pembangunan masjid dirusak dengan coretan Islamofobia. Muslim Association of Talence mengumumkan serangan itu di halaman resmi mereka yang menyebut pesan-pesan itu sebagai ‘rasis, kebencian, dan Islamofobia’. Pesan di pintu masuk berbunyi ‘stop with your mosques’ dan cercaan ofensif lainnya.

Prancis mengalami peningkatan retorika anti-Muslim dan kejahatan rasial sebagai akibat dari peringatan politisi tentang ancaman Islam di itu. Baru-baru ini, sebuah surat yang ditandatangani bersama oleh dua puluh pensiunan jenderal, seratus perwira senior, dan lebih dari seribu tentara memperingatkan tentang ‘disintegrasi’ Prancis jika tidak banyak yang dilakukan untuk memberantas Islam. Surat itu menyatakan bahwa Muslim jauh dari negara sah Prancis, tetapi ‘gerombolan’ yang mengancam fondasi negara.

Nativisme sayap kanan semacam itu telah naik daun di Negeri Anggur, dan pandangannya tertuju pada minoritas Muslim negara itu yang berpenduduk 5,4 juta jiwa. Ketika Presiden Prancis, Emmanuel Macron, melihat angka jajak pendapatnya menurun, dengan lebih dari 60 persen orang Prancis tidak setuju dengan pekerjaan yang dia lakukan, ia semakin menggunakan sentimen anti-Muslim untuk memenangkan pemilih sayap kanan.

Menyerang Muslim telah menjadi pilar utama dari strategi pemilihan ulang Macron saat ia berusaha untuk meningkatkan identitas sayap kanannya. Apa yang disebut ‘RUU Separatisme’ yang saat ini sedang disahkan oleh badan legislatif Prancis akan berusaha membuat kehidupan Muslim jauh lebih sulit dan, sebagai akibatnya, juga memberanikan orang-orang fanatik anti-Muslim.

Bagian dari proposal tersebut adalah perempuan Muslim berusia di bawah 18 tahun dilarang mengenakan jilbab. Sementara itu, wanita Muslim yang mengenakan jilbab akan dilarang menghadiri perjalanan sekolah bersama anak-anak mereka, dan bendera Aljazair dapat dilarang di gedung-gedung resmi pemerintah. Dengan latar belakang inilah, sayap kanan semakin berani melakukan serangan terhadap tempat-tempat ibadah Muslim sebagai hal yang sah untuk ‘menyelamatkan’ Prancis.

Loading...