Masih Mengundang Kontroversi, Plastik Kemasan Nugget Dijual Harga Rp 80 Ribuan Per Pack

harga, plastik, kemasan, nugget, kontroversi, bahan, makanan, beku, suhu, jangka, waktu, tertentu, sosis, bakso, ukuran, 20x20, cm, pack, per, 100, sampah, kantong, penggunaan, pembatasan, pengelolaanPlastik nylon food grade (sumber: Aliexpress.com)

Jika Anda pergi ke toko makanan beku, mungkin akan menemukan nugget yang terbungkus dalam . Bungkus itu tergolong khusus supaya makanan di dalamnya bisa awet disimpan dalam suhu dan jangka waktu tertentu.

Plastik kemasan nugget biasanya terbuat dari bahan nylon (food grade) yang memang dapat digunakan sebagai kemasan vacuum yang tahan disimpan dalam suhu beku di lemari pendingin. Plastik kemasan itu biasanya tersedia dalam 20×20 cm dan dijual dalam kemasan 1 pack berisi sekitar 100 plastik. Satu pack plastik kemasan nugget dijual dengan Rp 80 ribuan. Selain untuk nugget, bisa juga digunakan untuk sosis dan bakso.

Walaupun banyak digunakan, plastik merupakan salah satu bahan yang mengundang kontroversi. Hal itu terkait karena sifatnya yang tidak mudah diuraikan. Oleh karena itu, berbagai tindakan penghentian penggunaan plastik digalakkan.

Di luar negeri, beberapa telah memulai tindakan pelarangan barang berbahan plastik. Tidak hanya melalui tindakan, tetapi juga siaran televisi seperti yang dilakukan di episode terakhir Blue Planet II produksi BBC.

Namun, ternyata meminimalisir penggunaan bahan plastik tidak semudah itu. Coca Cola mengatakan bahwa upaya mengurangi jumlah sampah plastik akan berpengaruh terhadap berkurangnya keuntungan perusahaan. Sebagai jalan keluar, Coca Cola akan menggandakan jumlah bahan daur ulang dalam botol plastik di Inggris dan menguji coba pemakaian botol isi ulang.

Beberapa supermarket besar, termasuk perusahaan multinasional Tesco dan Walmart, telah berjanji untuk mengurangi jumlah kemasan plastik yang mereka pakai untuk menjual produknya.

Tetapi meskipun ada komitmen ini, banyak makanan dan minuman masih mencari cara untuk memenuhi target yang telah ditetapkannya sendiri. Beberapa ahli khawatir bahwa tanpa pendekatan yang tepat, terburu-buru menghentikan pemakaian plastik justru akan membuat barang yang Anda beli menjadi lebih mahal.

“Ini tidak semudah mengatakan, ‘plastik itu buruk’ jadi mari kita pakai yang lain,” kata Eliot Whittington, Direktur Program Kebijakan di Institute of Sustainability Leadership University of Cambridge.

“Usaha mengurangi bahan plastik membutuhkan perubahan drastis dalam cara perusahaan atau produsen mengemas . Kebanyakan kemasan sekarang hanya dipakai sekali dan dibuang. Anda harus menjauhi cara itu,” tambah Whittington.

Sementara itu, di , mengenai penanganan bahan plastik juga dianggap tidak mudah. Seperti yang dilakukan oleh Pemda DKI Jakarta dalam mengelola sampah di daerah setempat. Namun, niat untuk mengelola sampah itu dinilai memberatkan karena pemahaman terhadap penggunaan kantong plastik.

“Kami tentu saja mendukung penuh upaya Pemda DKI untuk mengelola sampah, namun pembatasan kantong plastik justru akan memperlambat daerah karena mematikan industri, terutama industri kecil dan menengah yang bergantung pada penggunaan plastik sebagai kemasan,” ujar Budi Susanto, Wakil Ketua Umum Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS).

Loading...