Masih Loyo, Rupiah Lanjut Melemah di Selasa Pagi

Rupiah - beritacenter.comRupiah - beritacenter.com

JAKARTA – tenggelam semakin dalam di zona merah pada Selasa (9/3) pagi. Menurut Index pukul 09.03 WIB, Garuda  melemah 65 poin atau 0,45% ke level Rp14.425 per AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup terdepresiasi cukup tajam, 60 poin atau 0,42% di posisi Rp14.360 per AS pada Senin (8/3) kemarin.

“Penurunan nilai tukar rupiah terjadi di tengah tren penguatan dolar AS terhadap mata uang karena peningkatan imbal hasil atau yield US Treasury,” terang Senior VP Economist Bank Permata, Josua Pardede, dikutip dari Bisnis. “Peningkatan yield US Treasury tersebut selanjutnya mendorong koreksi atau pelemahan obligasi global yang terindikasi dari keluarnya aliran modal asing dari obligasi negara berkembang.”

Ia melanjutkan, di tengah penguatan dolar AS yang didorong, rupiah diperkirakan akan bergerak stabil, terindikasi dari rupiah yang tetap terjaga meskipun telah melemah sekitar 330 poin atau 2,4% sejak akhir Januari 2021. “Bank Indonesia juga akan tetap berada di pasar untuk melakukan langkah-langkah stabilisasi melalui triple intervention di pasar spot dan derivatif valas serta pasar SBN,” sambung Josua.

Hampir senada, Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin, seperti dilansir dari Antara, menilai bahwa kenaikan yield US Treasury menjadi pemicu penguatan dolar AS. Ditambah lagi harapan pasar akan stimulus AS yang semakin melimpah di pasar keuangan karena banyaknya peredaran mata uang di .

“Untuk dalam negeri, belum ada faktor penting yang menjadi perhatian,” ujar Nanang. “Kini rupiah cukup sulit untuk kembali bergerak di bawah Rp14.200 per dolar AS. Saat ini, potensi terdekat mata uang domestik adalah mengejar area resisten Rp14.400 hingga Rp14.450 per dolar AS, serta yang paling krusial Rp14.500 per dolar AS. Sementara, untuk support berada di kisaran Rp14.310 dan Rp14.250 per dolar AS.”

Untuk transaksi hari ini, analisis CNBC Indonesia menyebutkan bahwa pelemahan rupiah masih mungkin terjadi. Pasalnya, tanda-tanda depresiasi mata uang Garuda sudah terlihat di pasar Non-Deliverable Market (NDF). Pasar NDF seringkali memengaruhi psikologis pembentukan di pasar spot dan karena itu kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot.

Loading...