Masih Diliputi Sentimen The Fed, Rupiah Dibuka Melemah di Awal Dagang

Dolar - www.liputan6.comDolar - www.liputan6.com

– Nilai tukar mengawali perdagangan pagi hari ini, Kamis (27/6), dengan pelemahan sebesar 5 poin atau 0,04 persen ke level Rp 14.182,5 per AS. Sebelumnya, Rabu (26/6), kurs mata Garuda berakhir terdepresiasi 53 poin atau 0,37 persen ke posisi Rp 14.178 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,07 persen menjadi 96,2134 lantaran para pelaku tengah mempertimbangkan pernyataan baru Presiden St. Louis, James Bullard terkait penurunan suku bunga yang akan datang.

Bullard yang selama ini secara luas dinilai sebagai salah satu pejabat paling dovish pun ternyata memberikan pernyataan yang kurang dovish pada Selasa (25/6). Seperti dilansir Antara, Bullard mengatakan bahwa penurunan suku bunga sebesar 50 basis poin akan terlalu banyak pada Juli 2019, lantaran kondisi tak akan memerlukan langkah yang sejauh itu. “Saya pikir 50 basis poin akan berlebihan. Saya tidak berpikir situasinya benar-benar membutuhkan itu, tetapi saya akan bersedia untuk pergi 25 (basis poin),” ujar Bullard.

Sementara itu, kurs rupiah diperkirakan akan bergerak melemah dalam rentang yang terbatas pada perdagangan hari ini. Menurut Ekonom Central Asia David Sumual, fokus pasar nantinya akan tertuju pada agenda KTT G-20 di Osaka, Jepang yang diselenggarakan pada akhir pekan. Dalam kesempatan yang sama juga akan digelar pertemuan antara Amerika Serikat dengan China terkait perang dagang. “Hasil pertemuan ini akan menentukan arah rupiah ke depannya,” ucap David, seperti dilansir Kontan.

Selain itu, gerak rupiah kemungkinan akan dipengaruhi oleh sentimen yang akan berlangsung sepanjang hari ini. Misalnya saja pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell yang masih akan wait and see untuk melakukan pemangkasan suku bunga acuan. Pasar merespons negatif pernyataan itu karena ada kemungkinan suku bunga AS tak akan turun dalam waktu dekat. “The Fed juga seperti menunjukkan bahwa pihaknya tidak ingin mendapat intervensi dari pemerintah AS dalam melakukan kebijakan moneter,” jelas David.

Loading...