Masih Bertenaga, Rupiah Menguat Tipis di Awal Selasa

Rupiah - www.businesstimes.com.sgRupiah - www.businesstimes.com.sg

JAKARTA – Rupiah masih cukup bertenaga untuk melanjutkan tren positif pada Selasa (16/4) pagi. Menurut paparan Index, mata uang Garuda mengawali transaksi dengan menguat tipis 3 poin atau 0,02% ke level Rp14.060 per AS. Sebelumnya, spot sudah berakhir naik 57 poin atau 0,4% di posisi Rp14.063 per AS pada Senin (15/4) kemarin.

Menurut analis uang Bank Mandiri, Reny Eka Putri, dari sentimen internal, penguatan rupiah didukung neraca dagang bulan Maret 2019 yang dilaporkan mengalami surplus sebesar 540 juta dolar AS. Ia pun memproyeksikan mata uang Garuda masih dapat melanjutkan kenaikan lantaran mayoritas pelaku pasar optimistis bahwa pemilu besok akan berlangsung kondusif.

Hampir senada, kepala riset dan edukasi PT Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, menuturkan bahwa Indonesia telah beberapa kali melalui pemilu dan setiap kali berhasil berjalan dengan lancar. Karena itu, pasar juga berharap pemilu tahun ini juga berlangsung lancar, sehingga kemungkinan besar bakal berimbas tipis terhadap pergerakan rupiah.

“Sejauh ini, yang saya lihat pengaruh pemilu sangat minim terhadap rupiah, pergerakan juga sepertinya tidak akan terpengaruh oleh siapa yang akan menang,” ujar Ariston, dilansir Bisnis. “Sepanjang pekan ini, rupiah malah lebih banyak dipengaruhi oleh isu eksternal dibandingkan dengan sentimen , misalnya data China yang menunjukkan surplus pada neraca perdagangan.”

Hal yang sama diutarakan oleh analis Monex Investindo Futures, Dini Nurhadi Yasyi, yang mengatakan bahwa selain sentimen internal, pergerakan positif rupiah juga didukung faktor eksternal. Neraca perdagangan China pada bulan Maret 2019 yang tercatat mengalami surplus sebesar 200 miliar yuan membuat kekhawatiran akan pelemahan sedikit mereda.

Pendapat lainnya diungkapkan analis Asia Trade Point Futures, Deddy Yusuf Siregar, yang mengatakan bahwa respons pasar menjelang pemilihan masih positif. Hal ini tercermin dari masih kuatnya arus asing yang masuk, menandakan fundamental Indonesia dinilai cukup kokoh. “Tampaknya, pelaku pasar tetap percaya diri terhadap fundamental dalam negeri dibandingkan dengan kondisi politik,” kata Deddy.

Loading...