Masih Berotot, Rupiah Lanjut Menguat 12 Poin di Awal Selasa

Rupiah - rebanas.comRupiah - rebanas.com

mampu melanjutkan tren ketika memulai hari Selasa (10/7) ini. Menurut Index, mata uang Garuda membuka dengan menguat 12 poin atau 0,08% ke level Rp14.318 per dolar AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup naik 45 poin atau 0,31% di posisi Rp14.330 per dolar AS pada akhir perdagangan Senin (9/7) kemarin.

“Sepanjang pekan ini, bisa menjadi momentum bagi mata uang Garuda untuk bergerak menguat. Pasalnya, dolar AS terkoreksi sejak risalah pertemuan bulan Juni lalu dibuka,” ujar analis Valbury Asia Futures, Lukman Leon, seperti dikutip Kontan. “Ringkasan meeting lalu membuat ekspektasi pasar bahwa akan menaikkan suku bunga lagi sebanyak dua kali di sisa tahun ini sirna.”

Sementara itu, ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menambahkan bahwa yield surat utang negara (SUN) yang kembali naik juga bisa menjadi katalis positif bagi rupiah. Terlebih lagi, kini pasar obligasi dalam negeri sudah kembali bergairah. “Langkah Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga yang cukup agresif juga dianggap sebagai langkah yang baik oleh pasar,” kata Josua.

Untuk perdagangan hari Selasa ini, Josua memperkirakan rupiah masih akan melanjutkan penguatan dan bergerak di kisaran Rp14.275 sampai Rp14.375 per dolar AS. Sementara itu, Lukman memprediksi mata uang Garuda bakal bergerak dalam rentang Rp14.300 sampai dengan Rp14.350 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.

Dari pasar global, mata uang Inggris Raya, pound sterling, mencatatkan penurunan harian terbesar terhadap dalam 3,5 minggu pada Senin waktu setempat, setelah dua menteri mengumumkan diri mereka dari kabinet Perdana Menteri Theresa May. Pound sterling melemah 1,3% terhadap dolar AS menuju level 1,319 dolar AS pada Senin sore.

Dilansir Reuters, Menteri Luar Negeri, Boris Johnson, mengundurkan diri dari posisinya pada hari Senin, hanya beberapa jam setelah pengunduran diri Sekretaris Brexit, David Davis, Minggu (8/7) malam. Jika pengunduran diri Davis mengguncang Theresa May, maka kepergian Johnson disebut mengguncang pondasi pemerintahan.

Loading...