Masalah Nuklir, Kim Jong-un Tunjukkan ‘Art of the Deal’ pada Trump dan Dunia

Kim Jong-un - www.news.com.auKim Jong-un - www.news.com.au

TOKYO – Pada tanggal 23 April kemarin, Sains dan (USTC) menerbitkan ringkasan yang menunjukkan bahwa situs uji coba nuklir bawah tanah Korea Utara di Punggye-ri, dekat perbatasan China, ‘telah runtuh dan tidak dapat digunakan’. Dari perspektif Korea Utara, Kim Jong-un, kampus asal Negeri Panda bisa merusak rencana permainannya, karena ia siap merundingkan ‘denuklirisasi Semenanjung Korea’.

Menurut laporan yang diturunkan oleh , selama mengadakan pembicaraan dengan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, pada tanggal 27 April, Kim dengan tegas menolak kesimpulan yang dicapai ilmuwan USTC. Kim mengatakan kepada Moon bahwa pihaknya akan menutup tempat uji coba nuklir pada akhir Mei, dan berjanji mengungkapkan prosesnya kepada ahli dan wartawan asal AS dan Korea Selatan.

USTC, universitas sains yang terletak di kota Provinsi Hefei Anhui, melakukan analisis uji nuklir keenam dan terbesar Korea Utara yang diadakan di situs Punggye-ri pada 3 September 2017. Berdasarkan data dari 1.972 lokasi, para ilmuwan membuat analisis rinci dari gelombang seismik gempa bumi berskala kecil yang misterius yang sering terjadi di dekat Punggye-ri. USTC pun mengatakan bahwa situs tersebut ‘telah runtuh dan tidak dapat digunakan’. Namun, dalam perkembangan yang ganjil, ringkasan penelitian itu secara tiba-tiba dihapus dari situs web universitas.

“Kim Jong-un pergi untuk menjelaskan kepada Moon bahwa ‘terowongan masih bisa digunakan’,” kata seorang pakar diplomasi dan keamanan China. “Otoritas China mungkin melihat pengumuman USTC sebagai masalah dan memerintahkan universitas untuk menghapus laporan tersebut, mengutamakan pertimbangan politik untuk Kim.”

Kim dan Presiden AS, Donald Trump, dijadwalkan akan melakukan pertemuan dalam beberapa minggu mendatang, dan keduanya berusaha untuk keluar dari pertemuan pertama dengan kesepakatan yang bagus. Sementara Trump adalah penulis untuk buku panduan ‘The Art of the Deal’ (1987), mungkin Kim yang akhirnya membuat ‘lawannya’ membayar lebih.

Banyak yang pada awalnya melihat pernyataan Kim pada tanggal 20 April tentang Punggye-ri, yang dilakukan oleh media Korea Utara pada hari berikutnya, sebagai konsesi menjelang KTT yang direncanakan bersama Trump. Tetapi, pernyataan Kim bahwa Korea Utara ‘tidak akan’ melakukan uji coba nuklir, mungkin sebenarnya merupakan cerminan dari fakta bahwa Korea Utara ‘tidak dapat’ melakukan tes untuk sementara waktu.

Kim pun tidak menyebutkan ‘pelepasan senjata nuklir Korea Utara’. Dia malah menyebut ‘denuklirisasi Semenanjung Korea’. Ungkapan kata-kata yang tergolong cerdas ini dimaksudkan sebagian untuk memenangkan dukungan China, yang diketahui ingin melawan keberadaan pangkalan AS di Korea Selatan.

Kim mungkin tidak masalah bernegosiasi panjang dengan Trump mengenai nuklir. Dia juga dapat mengulur waktu dengan mengadakan pembicaraan tiga pihak di antara dua Korea dan Washington, pembicaraan empat pihak termasuk China, atau pembicaraan enam pihak dengan menambahkan Jepang dan Rusia. Sementara mengulur-ulur waktu, Kim mungkin berusaha menggali terowongan baru untuk uji coba nuklir di Punggye-ri atau membangun situs uji coba di lokasi yang terpisah.

“Trump sangat menyerukan ‘hasil nyata’ menjelang pemilihan paruh waktu AS musim gugur ini,” kata sumber yang akrab dengan urusan internal Korea Utara. “Kim Jong-un, yang mengetahui hal itu, menyampaikan penutupan awal tempat uji coba nuklir melalui Moon Jae-in. Tetapi, jika situs uji nuklir tidak dapat digunakan di tempat pertama, tawaran Kim tidak lain adalah konsesi tanpa rasa bersalah.”

Loading...