Masalah Finansial, Malaysia Barter Jet Tempur Eropa dengan Minyak Kelapa Sawit

Minyak Kelapa Sawit - www.organicfacts.netMinyak Kelapa Sawit - www.organicfacts.net

KUALA LUMPUR –Malaysia dikabarkan berencana untuk menukar produk kelapa sawit mereka dengan peralatan canggih, termasuk jet tempur, kepada perusahaan pembuat peralatan militer Uni Eropa karena kesulitan finansial. Namun, kecil kemungkinan perusahaan-perusahaan ini bersedia untuk melakukan barter karena dianggap bukan yang nyaman untuk Eropa.

Dilansir Deutsche Welle, Malaysia sebenarnya tidak terlalu asing dengan pertukaran minyak kelapa sawit untuk peralatan militer. Sebelumnya, Negeri Jiran sudah membeli jet tempur buatan Rusia menggunakan komoditas itu pada tahun 1990-an lalu. Kini, Menteri Pertahanan Malaysia, Mohamad Sabu, pada Sabtu (25/5) kemarin menuturkan bahwa Kuala Lumpur sedang mempertimbangkan untuk menukar minyak kelapa sawit dengan peralatan militer canggih.

Langkah ini diambil karena Malaysia memiliki masalah finansial untuk membeli peralatan militer. di kawasan Asia Tenggara itu memiliki utang publik yang besar, masalah korupsi, serta pertumbuhan ekonomi yang lemah. Hanya dalam waktu satu tahun sejak berkuasa, pemerintahan Perdana Menteri Mahathir Mohamad bahkan telah menangguhkan atau merevisi proyek-proyek infrastruktur besar bernilai miliaran AS untuk mengendalikan biaya.

Kuala Lumpur saat ini berencana membeli 12 hingga 18 Light Combat Aircraft (LCA) dalam kesepakatan yang bisa bernilai lebih dari 1 miliar dolar AS. Mereka juga telah meminta berbagai produsen pesawat asal Eropa untuk memberikan informasi tentang kemampuan jet tempur perusahaan, dengan Saab Group Swedia dan Leonardo dari Italia tertarik untuk bernegosiasi.

“Tetapi, Eropa pada umumnya tidak melakukan pendekatan barter,” ujar wakil presiden Program Pertahanan Global di perusahaan konsultan Frost & Sullivan, Scott Clark, kepada Deutsche Welle. “Pasalnya, ini umumnya bukan model yang nyaman bagi orang Eropa. Jadi, saya tidak melihat orang Eropa sangat tertarik untuk mengadopsi model seperti itu.”

Komoditas minyak kelapa sawit sendiri telah menjadi titik nyala dalam hubungan Uni Eropa dengan Malaysia. Blok 28-negara itu berencana untuk menghapus minyak kelapa sawit dari bakar transportasi setelah Komisi Eropa menyimpulkan bahwa penanaman kelapa sawit, dengan beberapa pengecualian, menyebabkan deforestasi dan bahwa penggunaannya dalam bakar transportasi tidak dapat dihitung sebagai energi terbarukan.

“Uni Eropa telah mendiskreditkan Malaysia karena deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan perusakan habitat yang sangat penting bagi spesies yang terancam punah,” kata seorang peneliti senior di Malaysian Institute of Economic Research bernama Shankaran Nambiar. “ ekspor minyak kelapa sawit ke Negara Barat hampir ditutup.”

Kuala Lumpur sebelumnya juga telah mengancam akan memboikot barang Uni Eropa, jika blok itu meneruskan rencana mereka. Mahathir memanas-manasi Eropa ketika pada bulan Maret kemarin mengatakan bahwa Kuala Lumpur akan membeli jet tempur dari , bukan Uni Eropa. Namun, Mahathir kemudian meralat ancaman itu, mengatakan itu ‘hanya saran’ dan belum ada keputusan yang dibuat.

Tetapi, Malaysia sempat mengatakan bahwa China, Rusia, dan Pakistan telah menyatakan kesediaan mereka dibayar sebagian dengan minyak kelapa sawit untuk pembelian jet tempur. Jet China juga memiliki peluang bagus karena Malaysia memiliki ikatan politik dan ekonomi yang kuat dengan Negeri Panda, mitra dagang terbesar mereka. Tetapi, membeli jet China bisa menimbulkan masalah bagi Malaysia karena konflik di Laut China Selatan.

“Ada masalah jika terlalu mengandalkan China, terutama untuk barang-barang mahal seperti kapal perang dan jet tempur,” papar Collin Koh, analis pertahanan dari Sekolah Studi Internasional S. Rajaratnam di Universitas Teknologi Nanyang Singapura. “Jadi, bahkan jika Malaysia mengoperasikan kapal perang China di angkatan lautnya, mungkin sebenarnya tidak bijaksana berpaling ke negara itu untuk membeli barang besar seperti jet tempur.”

Loading...