Masalah Besar Siap Menghadang Andai Inggris Jadi Keluar dari Uni Eropa

Sebulan sebelum referendum Uni , diguncang isu mengenai keadaan darurat, termasuk terorisme, krisis keuangan, hingga bencana alam. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan niat Inggris untuk tetap melakukan pemilihan umum pada tanggal 23 Juni, apakah Inggris masih bertahan di Uni atau memutuskan keluar.

Keputusan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa memang akan meninggalkan banyak masalah. Sebagai contoh, baru-baru ini Keuangan, George Osborne, mengatakan rumah bisa jatuh hingga 18 persen jika terjadi Brexit. “Brexit memang memunculkan ketidakpastian dan memungkinkan orang untuk berspekulasi dengan cara apa pun yang mereka inginkan,” kata peneliti di European Institute of The London School of Economics, Ian Begg.

Selain itu, perdebatan juga telah terjadi antara Perdana Menteri David Cameron yang kampanye untuk tetap dalam Uni Eropa dengan mantan Wali Kota London, Boris Johnson, yang memilih untuk keluar. Johnson beralasan bahwa Brussels memiliki tujuan yang sama dengan Nazi pimpinan Adolf Hitler, yaitu membuat sebuah super-state ( super).

“Negara-negara Uni Eropa bisa ‘menghukum’ Inggris dalam bidang seandainya mereka tetap dalam keputusan untuk keluar,” sambung Begg. “Namun, Inggris bisa saja bernegosiasi dengan Swiss, Norwegia, atau Islandia untuk menyelesaikan masalah ini.”

Kerangka Inggris untuk bisa eksis dalam bidang ekonomi jika akhirnya benar-benar keluar dari Uni Eropa diramal membutuhkan waktu lebih dari dua tahun. Pada Maret lalu, mantan Sekretaris Kabinet Inggris, Lord Gus O’Donnell, mengatakan kepada BBC bahwa Brexit bisa memakan waktu hingga 10 tahun untuk bernegosiasi.

Satu-satunya negara yang meninggalkan Uni Eropa, Greenland, membutuhkan waktu tiga tahun untuk menegosiasikan hubungan dengan Uni Eropa setelah memisahkan diri pada tahun 1985. “Greenland adalah kasus yang sangat istimewa karena memperoleh otonomi yang lebih besar dari Denmark dan sekaligus memisahkan diri dari Uni Eropa,” kata Begg.

“Greenland hanya memiliki populasi sekitar 56.000 orang,” sambungnya. “Sementara Inggris, dengan populasi 64,1 juta, adalah ekonomi terbesar kedua di Uni Eropa.”

Dengan tepat satu bulan hingga pemilihan umum terbuka, kampanye untuk tetap di Uni Eropa telah kembali memimpin dalam jajak pendapat. Pada Sabtu (21/5) lalu, taruhan William Hill memotong peluang untuk Brexit menjadi 7-2 dan menunjukkan bahwa kesempatan Inggris keluar dari Uni Eropa hanya sebesar 22 persen.

Loading...