PMI Manufaktur Indonesia Naik, Rupiah Berakhir Menguat

Rupiah - www.moneysmart.idRupiah - www.moneysmart.id

JAKARTA – berhasil mengamankan posisi di area hijau pada Selasa (4/5) sore ketika Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia bulan April 2021 dilaporkan kembali mengalami kenaikan. Menurut catatan Bloomberg Index pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda berakhir menguat 20 poin atau 0,14% ke level Rp14.430 per AS.

Sementara itu, mata uang di bergerak variatif terhadap . Rupee India menguat 0,20%, won Korea Selatan naik 0,18%, dolar Taiwan terapresiasi 0,10%, sedangkan peso Filipina dan dolar Hong Kong masing-masing naik tipis 0,03%. Sebaliknya, dolar Singapura harus melemah 0,19%, yen Jepang terkoreksi 0,16%, yuan China terdepresiasi 0,04%, dan baht Thailand turun tipis 0,02%.

Salah satu sentimen yang mendukung gerak rupiah berasal dari rilis PMI manufaktur Indonesia yang naik dari 53,2 di bulan Maret 2021 menjadi 54,6 pada April 2021. Inti dari perbaikan nyata pada kondisi bisnis adalah lonjakan permintaan baru. Bisnis baru mengalami ekspansi substansial dan sejauh ini merupakan yang tercepat sejak survei dimulai satu dekade lalu.

Sebelumnya, analisis dari tim riset CNBC Indonesia menuturkan bahwa rupiah berpotensi melakukan ‘balas dendam’ kepada . Pasalnya, pemerintah hari ini menggelar lelang obligasi syariah atau sukuk. Akhir-akhir ini, minat terhadap obligasi pemerintah Indonesia memang mulai pulih. Jika ini berlanjut dalam lelang sukuk, maka permintaan terhadap rupiah dapat meningkat.

Dari global, indeks dolar AS sebenarnya cukup perkasa pada hari Selasa meski perlambatan yang tidak terduga dalam pertumbuhan manufaktur AS mendorong investor untuk memangkas taruhan bahwa booming ekonomi AS dapat mengatrol greenback. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,348 poin atau 0,38% ke level 91,293 pada pukul 14.59 WIB.

Seperti diwartakan Reuters, data menunjukkan bahwa kekurangan bahan dasar dan hambatan transportasi menekan survei manufaktur Institute for Supply Management (ISM) sebesar 4,7 poin menjadi 64,7, menjatuhkan dolar AS dari puncak tiga minggu terhadap yen dan tertinggi dua minggu melawan euro. Namun, dengan perdagangan Asia relatif sepi karena hari libur di Jepang dan China, pelemahan greenback bisa diredam.

“Laporan manufaktur ISM tidak memenuhi ekspektasi, tetapi angka nonfarm payrolls setidaknya harus sekuat ekspektasi konsensus,” kata analis Westpac dalam sebuah catatan. “Kebijakan dovish The Fed mungkin tidak akan terpengaruh, tetapi ekspektasi untuk data AS yang solid minggu ini dan kemungkinan pidato The Fed regional yang lebih hawkish membuat indeks dolar AS diposisikan untuk lebih banyak aksi.”

Loading...