Manufaktur AS Kinclong, Rupiah Cuma Melemah Tipis di Penutupan

AS di sektor yang dilaporkan membaik membuat laju semakin perkasa, sekaligus ‘membunuh’ peluang untuk bergerak ke zona hijau. Meski demikian, menurut Index pukul 15.59 WIB, mata uang NKRI hanya melemah tipis 2 poin atau 0,01% ke level Rp13.542 per AS di penutupan dagang Selasa (3/10) ini.

Sebelumnya, pada perdagangan awal pekan (2/10) kemarin, rupiah harus melorot 68 poin atau 0,50% di posisi Rp13.540 saat penutupan. Kemudian, pagi tadi, mata uang Garuda masih belum bergerak dari zona merah setelah dibuka terdepresiasi 34 poin atau 0,25% ke level Rp13.574 per . Sepanjang hari ini, spot bergerak di kisaran Rp13.534 hingga Rp15.593 per .

Dari pasar global, indeks dolar AS mampu menyentuh level tertinggi dalam 1,5 bulan terakhir menyusul kenaikan imbal hasil AS setelah data manufaktur Paman Sam dilaporkan positif. Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama menguat 0,295 poin atau 0,32% menuju level 93,854 pada pukul 11.15 WIB, berbeda tipis dari level tertinggi tanggal 17 Agustus lalu di posisi 93,891.

Aktivitas ekonomi AS di sektor manufaktur meningkat pada bulan September 2017, dan keseluruhan ekonomi tumbuh untuk bulan ke-100 secara beruntun, demikian laporan Institute for Supply Management (ISM). Indeks manufaktur, atau yang juga dikenal sebagai indeks pembelian manajer (PMI), tercatat 60,8 di bulan September, meningkat 2% dibandingkan bulan sebelumnya sekaligus mengalahkan konsensus pasar yang sebesar 58,0.

Laporan terbaru ini pun langsung membuat imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik tipis ke level 2,351% setelah sempat menyentuh posisi tertinggi tiga bulan terakhir di level 2,371% semalam. Data manufaktur AS yang berada di level tertinggi dalam kurun waktu 13 tahun terakhir juga membuat bursa saham Wall Street mencetak rekor baru pada penutupan dagang Senin kemarin.

“Dolar AS menerima dukungan dari tema yang sudah dikenal. The Fed terus terdengar hawkish, indikator ekonomi Paman Sam bagus, dan inflasi meningkat,” papar Tokyo Branch Manager di State Street Bank, Bart Wakabayashi, seperti dikutip Reuters. “Semua faktor ini memperkuat prospek kenaikan suku bunga The Fed di bulan Desember mendatang.”

Loading...