‘Manfaatkan’ Basis 60 Juta Nasabah, Lippo Terjun ke Bisnis Digital

John Riady, direktur eksekutif Lippo - id.techinasia.comJohn Riady, direktur eksekutif Lippo - id.techinasia.com

JAKARTA – Salah satu kelompok kaya di Indonesia, Lippo Group, berencana memberikan layanan mobile melalui satu dompet dengan menggunakan basis 60 juta mereka untuk memanfaatkan pasar dalam negeri yang menjanjikan. Kelompok tersebut memiliki komitmen melakukan pertumbuhan di sektor digital dengan investasi 100 juta AS per tahun dalam jangka waktu sepuluh tahun mendatang.

Dalam suatu wawancara dengan Nikkei, John Riady, direktur eksekutif yang bertanggung jawab atas segmen digital Lippo, menuturkan bahwa Indonesia adalah pasar besar ‘terakhir yang tersisa’ dengan teknologi yang belum benar-benar lepas landas. Karena itu, pihaknya ingin bisa mengambil bagian dalam industri tersebut, khususnya di Tanah Air.

“Kami memiliki komitmen digital sepuluh tahun untuk menginvestasikan dana sebesar 100 juta dolar AS per tahun, yang bertujuan membangun otot digital kami,” katanya -baru ini. “Bagi kelompok kami, ini adalah salah satu transisi terbesar seiring pertumbuhan pasar (digital) ini, dan kami ingin bisa ambil bagian dalam industri ini.”

Pertanyaannya adalah apakah Lippo Group mampu menggabungkan keahlian perbankan mereka dengan teknologi digital yang saat ini bergerak sangat cepat atau tidak. Menurut Riady, kekuatan Lippo Group terletak pada kenyataan bahwa pihaknya memiliki beragam , seperti ritel dan kesehatan, yang memerlukan pemrosesan pembayaran.

Nah, di sinilah Ovo masuk. Lippo sendiri telah mempromosikan aplikasi pembayaran elektronik tersebut sejak tahun lalu, dan Ovo baru-baru ini telah menerima dana sebesar 116 juta dolar AS dari perusahaan keuangan asal Jepang, Tokyo Century. Ovo sendiri merupakan aplikasi smart yang diklaim dapat memberikan kemudahan dalam bertransaksi (Ovo Cash).

“Ovo juga meluncurkan layanan keuangan baru yang didukung oleh analisis data yang besar,” sambung Riady. “Sebagai langkah awal, kami telah mulai mengintegrasikan data pada 60 juta pelanggan di berbagai lini bisnis untuk menciptakan ‘tampilan pelanggan tunggal’. Analisis riwayat e-money dan point card akan digunakan, misalnya untuk menyetujui pembiayaan uang digital.”

Untuk menguji kerangka pinjaman baru, Ovo baru-baru ini memberikan pinjaman kepada 400 orang sebagai tahap uji coba, menggunakan sejarah pembelian dan status pembayaran untuk membantu menentukan kelayakan. “Kami ingin mengumpulkan data, data pelanggan, dan algoritma sebelum peluncuran penuh,” imbuh Riady.

Dorongan agresif Lippo Group untuk masuk ke dalam bisnis digital muncul di tengah booming pendanaan di industri teknologi di negeri ini. Pada bulan Agustus, situs web e-commerce, Tokopedia, mengumumkan putaran pendanaan sebesar 1,1 miliar dolar AS yang dipimpin oleh Alibaba. Sementara, situs dan booking online, Traveloka, mengumpulkan 350 juta dolar AS dari Expedia yang berbasis di AS.

Riady sendiri mengakui bahwa ‘persaingan berat’ menanti mereka di depan, tetapi pihaknya tidak terpengaruh. Menurutnya, kunci sukses di pasar adalah membangun ‘ekosistem pedagang’ di beberapa industri seperti ritel dan transportasi. “Anda harus bisa mengambil dan menggunakannya untuk semuanya,” katanya.

“Total nilai perusahaan teknologi Indonesia saat ini antara 8 miliar dolar AS sampai 12 miliar dolar AS dan diprediksi akan berlipat ganda atau tiga kali dalam lima tahun ke depan,” lanjut Riady. “Valuasi untuk perusahaan teknologi Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia, yang merupakan cerminan seberapa besar potensi yang ada di pasar.”

Loading...