Makin Terbenam, Rupiah Anjlok 101 Poin di Awal Senin

Menurut catatan Bloomberg Index, mata uang Garuda mengawali transaksi dengan melemah 101 poin atau 0,7% ke level Rp14.579 per dolar AS - www.validnews.id

masih belum punya tenaga pada pembukaan Senin (13/8) ini, malah makin terperosok di zona merah. Menurut catatan Index, Garuda mengawali dengan melemah 101 poin atau 0,7% ke level Rp14.579 per dolar . Sebelumnya, spot sudah terdepresiasi 62 poin atau 0,43% di posisi Rp14.478 per dolar pada akhir pekan (10/8) kemarin.

“Pelemahan rupiah masih disebabkan oleh faktor eksternal yang mengakibatkan semakin perkasa,” ujar Direktur PT Garuda Berjangka, Ibrahim, dilansir Bisnis. “Ada sejumlah faktor pendukung, salah satunya data pengangguran AS yang berkurang di luar ekspektasi sehingga menguatkan greenback, sekaligus mengukuhkan pendirian The Fed untuk menaikkan di kuartal III 2018.”

Selain itu, pertemuan Inggris dan Uni Eropa yang tidak membuahkan hasil juga membuat mata uang pound sterling melemah dan mendorong indeks dolar AS semakin menguat. Terakhir, sambung Ibrahim, adalah sentimen perang dagang antara AS dengan Rusia dan Turki. “Sanksi ekonomi AS kepada dua negara tersebut mendorong dolar AS untuk naik,” tambah Ibrahim.

“Sementara, dari dalam negeri, pertumbuhan domestik bruto () Indonesia sebenarnya cukup bagus, tetapi karena sedang menghadapi tahun politik, membuat pasar diselimuti ketidakpastian,” lanjut Ibrahim. “Pasar masih terus memerhatikan calon-calon mana yang dinilai cukup kuat untuk membangun Tanah Air.”

Hampir senada, analis Samuel Sekuritas Indonesia, Ahmad Mikail, menilai bahwa kejatuhan mata uang Turki, lira, sebesar 18% hanya dalam satu hari mendorong investor untuk menempatkan dolar AS sebagai safe haven. Kenaikan tarif oleh AS atas produk ekspor Turki seperti aluminium dan baja masing-masing sebesar 20% dan 40% menjadi faktor fundamental yang mendorong lira terperosok.

“Faktor politik juga turut mendorong kejatuhan mata uang Turki, seperti keputusan Turki untuk membeli sistem pertahanan rudal dari Rusia, yang memperburuk hubungannya dengan AS,” kata Mikail. “Berbagai hal tersebut mendorong arus modal keluar dari Turki. Rupiah pun diperkirakan dapat terimbas dengan kejatuhan mata uang lira tersebut.”

Loading...